Jadi, perjalanan singkat kemarin (bukan dalam harfiah) bisa terbilang serba ngga direncanain. Mendadak. Berawal dari paman gua nelpon minta tolong ngajarin fisika ke sepupu gua yang mau ikut SBMPTN. Jam 11 pagi ditelpon, jam 1 siang lebih gua udah duduk manis di airplane seat gua. Shock selama di perjalanan. Ga nyangka bakal ke Jakarta pada hari itu. Setelah transit 4 jam 10 menit di Surabaya, gua sampai di Jakarta pada malamnya tepatnya Bekasi sih.

Tiga hari awal ya dilewati dengan berkecimpung bantuin sepupu gua. Sampai ada pertanyaan di Whatsapp gua. Sebut saja Sierra (bukan nama sebenarnya). Dia tahu gua di Bekasi. Gua sih yang ngasih tau.

“Kamu mau ke Bandung? Aku cuma nanya kok,” isi pesannya.

Dalam sepersekian menit, gua mikir. Iya juga ya, ke Bandung lumayan deket juga waktu itu. Kalau dibandingin dengan dari Makassar. Pas banget ada waktu kosong pas hari Ahad ketika sepupu gua ada jam bimbingan kimia sama matematika. Ya sudah, gua bilang gua coba rencanain dulu gimana bagusnya. Kebiasaan planner. Singkat cerita, sepupu gua setuju, paman gua bilang oke, bokap ngizinin, tiket ada. Berangkat gua ke Bandung dari Bekasi naik kereta.

Before that, Sierra ini udah gua kenal sejak SMP dan belum pernah ketemu. Secara, gua tinggal di Kotamobagu, dia di Bandung. Jadi kurang lebih hampir 8 tahun gua kenal Sierra ini, jauh lebih lama daripada sahabat Metamorf gua. Gua kenal dia dari sebuah perkumpulan semacam komunitas begitu. Sejak itu, bisa dibilang cukup dekatlah (tidak secara harfiah). Mungkin bisa disebut sahabat pena begitu. Karena ga pernah ketemu, it’s truly awkward at our first meet.

Ketemunya di stasiun Bandung. Jam 11. Rainy. Jadi, ada sekitar hampir sejam duduk doang di stasiun sambil cerita. Hujan yang sekaligus membatalkan rencana kita ke alun-alun Bandung, yang katanya belum afdol ke Bandung kalo belum cium rumputnya. Oke, berlebihan. Akhirnya, kita cuma ke Cihampelas. Only walking around before we decided to watch ‘My Stupid Boss’ at cinema. Menit demi menit ketika menunggu gilirang penayangan film itu dilewati dengan bercerita dan beberapa menit keheningan serta diselingi ada promosi oleh orang (namanya Adi kalo ga salah) dari semacam komunitas penyayang anak autis yang mengira gua sama Sierra ini pacaran.

“Mas ini pacarnya mbak?” tanya si Adi yang langsung dijawab sama Sierra dan gua bersamaan, “Nggak.” dengan nada agak tinggi. Adi nya langsung keliatan tertegun begitu haha. Setelah gua ngasih beberapa lembar duit gitu buat beli kuponnya, Adi nya malah nyeletuk.

“Tuh, mbak. Masnya baik. Pacarin aja,” Sierra nya natap sinis pengen ketawa. Gua melotot dikit. Adi nya ketawa puas. Langsung gua tambahin duitnya beberapa lembar haha. Nggak deng.

Akhirnya, filmnya ditayangin. Ketawa puas ngeliatin tingkah konyol Reza Rahadian dengan perut buatan itu. Kita pun pulang. After taking a couple of selfies, kita berpisah di depan Cihampelas Walk dikarenakan dia masih harus ujian akhir semester esoknya.

Ketika berpisah jalan, gua sempat melihat dia berjalan menjauh dari belakang sebelum hilang dalam keramaian. Dalam sedetik beberapa memori lama melintasi kepala gua kala itu. Gua masih ingat pesan BBM nya ke gua sekitar dua tahun lalu.

“Kamu masih di top waiting list aku kok,” isi pesan itu. Dua tahun lalu. Walaupun itu bukan sebuah pernyataan yang absolut bahwa dia suka sama gua, tapi gua meleleh. Haha.

Di detik berikutnya, gua berpikir.

Suka sama seseorang yang belum tentu suka sama lu itu ibarat memiliki sebuah pedang yang tajam. Di satu sisi itu bisa menjadi senjata yang menguatkan lu, di sisi lain itu bisa menjadi senjata yang bisa membunuh diri lu sendiri.

Ketika lu tau bahwa dia suka sama lu, it will make you stronger than before. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang menopang diri lu. Tapi, ketika lu tau dia ngga suka sama lu, seolah-olah lu menghunuskan pedang itu ke jantung lu sendiri. Semakin lama semakin sakit.

Akhirnya, malam itu gua habiskan di hotel dekat Cihampelas Walk sambil menonton F1 GP Monaco dilanjutkan dengan serial CSI. Gua ga kemana-mana karena hujan lagi waktu itu. Seingat gua sih hujan. Harusnya gua ga bermalam. Tapi, karena ga dapet tiket balik. Terpaksa menginap semalam.

Besoknya, jam 8.45. 22 jam setelah pertama kali gua mendaratkan kaki di Bandung, gua udah duduk manis dekat jendela kereta Argo Parahyangan yang membawa gua balik ke Bekasi. Sembari melihat pemandangan hijau nan asri Bumi Pasundan, gua hanya termenung mengingat memori yang telah lalu. Terbayang pertanyaan yang entah akan terjawab atau tidak.

“Masihkah aku ada di peringkat pertama waiting listmu? Atau apakah sudah tergantikan dengan  orang lain?”

Mungkin agak berlebihan kedengarannya. Tapi, ya begitu keadaannya. Masih menunggu jawaban yang pasti. Seperti sebuah quote singkat in Ika Natassa’s latest novel, The Architecture of Love. Singkat tapi dalam.

“Disayangi itu menyenangkan.

Dan gua masih mencari rasa menyenangkan yang berbeda itu. Rasa menyenangkan yang tak pernah terasa.

22 Hours of Escape to Bandung

by on 6/03/2016 02:19:00 AM
Jadi, perjalanan singkat kemarin (bukan dalam harfiah) bisa terbilang serba ngga direncanain. Mendadak. Berawal dari paman gua nelpo...


Ada sebuah quote menarik yang gua baca di sebuah bacaan yang kebetulan dalam bahasa Inggris beberapa hari yang lalu. Kalimatnya kurang lebih seperti ini bunyinya,

"Pada saatnya nanti, Anda akan menemukan bahwa ada jauh lebih besar kebahagiaan dalam melihat kebahagiaan orang lain dibandingkan dengan diri anda sendiri," - Honore de Balzac, Le Pere Goriot (1835).

Setelah gua cari tentang novel tersebut, memang ketika menulis untaian diatas, Honore de Balzac sedang menggambarkan kondisi masyarakat Prancis di masa itu, yang terlibat pergolakan masalah status sosial.

Di dalam novel yang memunculkan Eugene de Rastignac sebagai tokoh utamanya itu, terpotret dengan jelas usaha Rastignac dalam mencoba menggapai ambisi pribadinya. Sampai-sampai dia menghalalkan segala cara di luar etika.

Dari satu perspektif, konotasinya mungkin terlihat negatif. Namun, dari sudut seberang, ada pesan 'struggle for survival' alias perjuangan untuk bertahan hidup yang bisa diambil. Ada pengorbanan yang harus ditempuh agar seorang individu bisa memperpanjang eksistensinya.

Dalam menjalani hidup, selalu ada pengorbanan yang harus dilakukan. Bukan melulu soal hilangnya materi, tapi bisa keputusan untuk melepas sebuah kesempatan atau bahkan sebuah posisi.

Kalau mau mengambil contoh, kita lihat di MLB (Major League Baseball) di Amerika Serikat. Disana ada cerita tentang sebuah sacrifice. Bisbol mengajarkan kita bahwa ada beberapa pemain yang rela melepaskan posisinya tergeser dari pos inti, selama ia masih bisa berkontribusi di sektor lain dalam tim.

Contohlah, Alex Rodriguez. Tahun ini dia sudah memasuki musim ke-12 bersama New York Yankees. Dalam empat musim terakhir, Alex rela bermain sebagai Designated Hitter alias pemukul pengganti, alih-alih sebagai 3rd baseman, yang notabene posisi yang jauh lebih presitisius.

Alex tampaknya kurang memperdulikan kepentingan pribadinya. Sepanjang pelatih Yankees, Rob Thomson masih membutuhkan jasanya, di manapun itu, dan selama tim mendapatkan hasil positif dari pengorbanannya, sang eks Texas Rangers ini pun selalu siap berkontribusi secara optimal.

Hal yang sama juga mungkin dialami oleh seorang Lionel Messi musim ini. For the first time in seven years, he must see himself didn’t stay at the top of El Pichichi (top scorer in La Liga). Posisinya dalam menjadi ujung tombak Barcelona sekarang digantikan oleh Luis Suarez. Tanpa upaya mempertontonkan kengototan untuk menyaingi Suarez, The Messiah justru rela menempatkan dirinya sebagai feeder bagi bomber Uruguay itu.

Keahlian memukau dalam menceploskan bola kini sudah beralih menjadi keelokan mengumpan eksepsional. Argo golnya kini berubah menjadi argo assist. Messi tentu menyadari betul bahwa pengorbanannya ini berpotensi memperkecil kansnya menggondol Ballon d’Or keenamnya musim ini, yang menjadi lambang pesepakbola terbaik yang sejak diperebutkan olehnya dan Cristiano Ronaldo beberapa musim terakhir, yang sering ditentukan dengan banyaknya koleksi gol.

Namun, Messi tampak mulai kurang peduli, selama dirinya bisa melihat bentuk kebahagiaan baru seperti yang dituliskan oleh Balzac.

Mungkin kita juga harus mulai seperti itu. Memang rasanya melihat senyum kebahagiaan orang lain itu jauh lebih mantap rasanya ketimbang senyum kebahagiaan milik sendiri. Belum pernah merasakan? Cobalah.

Senyum Lain

by on 5/12/2016 04:53:00 PM
Ada sebuah quote menarik yang gua baca di sebuah bacaan yang kebetulan dalam bahasa Inggris beberapa hari yang lalu. Kalimatnya kura...