Tampilkan postingan dengan label Politica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politica. Tampilkan semua postingan


Pagi tadi, saya dapat kiriman WA yang isinya ga akan saya beberkan disini secara gamblang, tapi saya akan kasih tahu inti dari pesan WA itu adalah menjelekkan salah satu pasangan calon Gubernur Jakarta di pilkada tahun depan.

Perlu diingat ini bukan untuk membela pasangan itu. Hanya saja saya tergelitik untuk membahas mengenai pesan WA tersebut.

Dalam dunia politik Indonesia, kampanye adalah salah satu unsur yang penting dan tidak boleh ditinggalkan, apalagi untuk pemilihan kepala daerah, anggota dewan, bahkan presiden. Kampanye secara garis besar ada tiga jenis. Positive campaign, negative campaign, dan black campaign. Okelah, kita tidak ada masalah dengan positive campaign. Masalah kita adalah di dua tipe lainnya.

Seringkali, kebanyakan orang menganggap negative campaign dan black campaign adalah hal yang sama. Padahal beda. Negative campaign ialah mengungkapkan hal yang tidak baik dari lawan dengan berdasarkan fakta yang ada. Sedangkan, black campaign adalah mengungkapkan hal yang tidak baik dari lawan yang tidak berdasarkan fakta alias fitnah.

Dengan perbedaan itu, menurut saya negative campaign adalah hal yang harus dilakukan namun tidak dengan black campaign.

Ilustrasinya begini, misalkan anda punya saudara perempuan yang akan menikah dengan seorang laki-laki yang anda tahu suka melakukan kekerasan terhadap perempuan. Masa anda hanya akan mendiamkannya? Anda tega dengan saudara perempuan anda?

Atau misalkan di daerah anda ada pemilihan kepala desa dan salah satu calon kepala desanya anda tahu pernah masuk penjara karena melakukan kejahatan. Okelah, mungkin dia sudah merasakan hukumannya. Tapi setidaknya anda harus memberitahu tentang masa lalunya. Kalo warganya tetap memilih dia, ya itu sudah pilihan mereka, yang penting anda sudah memberitahukannya. Daripada anda tidak memberitahukannya lalu dia melakukan kejahatan lagi? Anda yang akan dirundung penyesalan.

Oleh karenanya, saya merasa bahwa negative campaign itu penting untuk dilakukan.

Nah sekarang pertanyaannya adalah bagaimana membedakan mana yang negative campaign dan mana yang black campaign?

Sederhana.

Inilah sebabnya kenapa pemilihan Gubernur Jakarta menjadi ramai dan bising. Karena berbagai informasi yang dilemparkan satu sama lain untuk mendukung atau melawan isu yang ada. Sebagai rakyat Indonesia yang hidup di era informasi terbuka, dan kebebasan berpendapat yang ada, kita harus cerdas. Bacalah sebanyak-banyaknya dan berpikirlah.

Memang benar, media-media di Indonesia sekarang banyak yang dikooptasi oleh berbagai calon-calon yang ada. Namun, anda harus menyerap semuanya kemudian anda saring menggunakan akal anda. Salah satu senior saya di kampus ngasih nasihat, “Jangan hanya melihat dari satu sisi. Tapi, lihatlah dari berbagai macam sisi,” yang kalau bisa saya tambahkan dengan, “baru anda pilah menggunakan akal pikiran anda.”

Baca buku-buku, ikuti diskusi, berbincang dengan berbagai macam orang dengan pemikiran yang berbeda. Perhatikan post atau tweet yang beredar di dunia maya. Lalu, anda kembali pikirkan. Mana yang benar dan mana yang salah? Mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Mana yang jujur dan mana yang bohong? Itulah maknanya hidup di Indonesia, negara demokrasi yang masih muda.

Lalu hubungannya dengan pesan WA yang saya terima apa? Ya, seperti tadi yang saya bilang. Saring terlebih dahulu menggunakan akal. Pesan-pesan WA yang saya dapatkan itu hasil didapat copas dari sumber yang tidak jelas. Isinya pun kalau dibaca tidak masuk di akal saya, tidak tahu dengan orang lain. Makanya saya lebih memilih untuk tidak percaya terlebih dahulu isinya dan tidak mengirimkannya kepada orang lain sebelum saya mendapatkan berita yang berdasar fakta dan kredibel.

Kalau di antara anda sekalian yang pernah nonton film Hot Fuzz pasti paham ini. Terkadang, di pemikiran kebanyakan orang karena dilihat tujuannya baik, jadi bisa menghalalkan segala cara asal tujuan baik itu tercapai. Padahal ngga begitu.

Mark my words. Walaupun tujuan anda baik, kalau anda lakukan dengan cara yang buruk ya anda tetap buruk.

Campaign

by on 12/13/2016 03:45:00 AM
Pagi tadi, saya dapat kiriman WA yang isinya ga akan saya beberkan disini secara gamblang, tapi saya akan kasih tahu inti dari pesan...



I’m back!

Jadi kali ini mau bahas tentang pemilihan presiden Amerika kemarin. 8 November 2016 menjadi tanggal bersejarah buat Amerika, seorang Donald J. Trump terpilih menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat. Can you believe that? Siapa yang mengira sebelumnya bahwa Trump yang akan menggantikan Obama. Mungkin banyak orang Amerika maupun dunia masih tidak menyangka bahwa Trump akan menang melawan Clinton di pilpres kemarin.

Pada awalnya, pencalonan Donald Trump sebagai bakal calon presiden Amerika Serikat dari partai Republik itu banyak dipandang sebelah mata oleh mayoritas orang. Bahkan pada pemilihan calon presiden dari partai Republik, gua lebih menjagokan Ted Cruz. Trump yang bicaranya relatif blak-blakan dan pembawaan yang cenderung konyol ternyata mampu membuat dia menarik perhatian masyarakat AS. Dan menurut gua ini adalah pilpres AS terseru yang pernah gua amati. Sampai-sampai ngga fokus dengerin dosen pas kuliah gara-gara mantengin hasil pilpres kemarin.

Bagaimana ngga? Pemilu kali ini sangat membagi pilihan rakyat AS. Sering terjadi adu pernyataan dan pencitraan antar kedua kubu di berbagai media. Sekilas memang kelihatannya banyak orang lebih menjagokan Clinton yang lebih berpengalaman ketimbang Trump yang selain tidak berpengalaman juga rasis tingkat dewa.

Dia kelihatan mengidap Islamophobia hingga di dalam kampanyenya sering mengatakan bahwa dia berkeinginan untuk membatasi imigran di AS. Sebuah pencitraan yang salah dan tidak mengambil simpati dari publik. Tapi, sekarang kita tidak bisa menyangkal bahwa Trump memenangkan pemilu bahkan di daerah-daerah yang notabene adalah basis pendukung Demokrat dan Hillary malah dimenangkan Trump. Gila ngga tuh?

Jadi apa yang menyebabkan Trump bisa membalikkan semua perkiraan yang dibuat sebelumnya oleh para pakar ataupun analis?

Survei-survei yang beredar sebelum pemilihan menunjukkan bahwa Hillary akan menang walaupun dengan perbedaan yang tipis. Menurut gua, banyak pendukung Trump yang malu mengakui bahwa mereka memilih Trump kala itu. Tapi, faktanya mereka tetap memilih Trump. Mungkin mereka sudah tersenyum lebar sekarang.

Angka partisipasi pemilu di AS cukup rendah. Menurut salah satu lembaga survei independen disana menunjukkan kalau angka partisipasi pemilu disana tidak mencapai 60 persen. Bahkan untuk pemilihan senat atau anggota kongres hanya sekitar 40 persen. Mungkin sekarang mereka menyesal ngga ikut memilih.

Lalu, suara di negara bagian Ohio, Florida dan North Carolina semuanya mengarah ke Trump. Apa maknanya? Kelas pekerja kulit putih disana apalagi yang ngga mengenyam kuliah baik laki-laki maupun perempuan, beramai-ramai meninggalkan Demokrat dan memilih calon Republik. Mereka yang tinggal di pedesaan menggunakan suaranya, antara lain dengan tujuan suara mereka didengar. Mereka inilah yang selama ini merasa ditinggalkan kalangan yang mapan.

Waktu gua liat Wisconsin dimenangkan Trump, gua udah yakin bahwa Clinton udah ngga punya harapan lagi.

Trump seperti memakai baju antipeluru. Peluru disini maksudnya adalah dampak-dampak buruk yang menimpa dirinya. Trump mengejek politikus dan veteran perang, John McCain (lawan Obama di pilpres 2008). Pernah adu mulut dengan pembawa acara Fox News yang gua lupa siapa namanya. Pernah juga mengejek peserta ratu kecantikan dan setengah hati saat meminta maaf dalam kasus video yang menunjukkan ia sangat merendahkan perempuan. Juga tampil tidak meyakinkan di tiga debat presiden kemarin. Tapi ternyata itu ngga berdampak buruk buat Trump. Mungkin juga saking banyaknya kontroversi yang ia munculkan datang bertubi-tubi, public jadi ngga punya waktu buat mencernanya.

Bisa dibilang, Trump ngga hanya melawan Demokrat tapi juga dengan para tokoh Republik, seperti McCain yang satu per satu meninggalkannya. Tapi ia tetap menang. Para pesaingnya di kubu Republik seperti Chris Christie, Marco Rubio, Ben Carson bahkan Ted Cruz bertekuk lutut. Bisa saja, dia menjadi popular karena berani melawan para tokoh Republik. Langkahnya itu mengesankan dia adalah orang luar atau independen. Status ini kelihatan ketika para warga AS sudah ngga mau melihat tokoh-tokoh politik mapan di panggung politik AS. Sebenarnya, Sanders dari Demokrat dan Cruz dari Republik udah menangkap suasana ini. Tapi malah Trump yang merebutnya dan berhasil mengantarkannya ke Gedung Putih.

Yang menarik adalah kasus e-mail Clinton ketika menjadi Menlu AS yang digembor-gemborkan Trump di berbagai kesempatan. Sampai tiga minggu lalu, orang-orang masih yakin Hillary akan menang. Sampai saatnya James Comey, direktur FBI mengeluarkan surat keputusan bahwa FBI akan membuka lagi kasus penggunaan email pribadi dalam korespondensi Clinton sebagai Menlu AS. Walaupun hasilnya tidak terbukti, namun waktu dua minggu hingga dua hari sebelum pemilihan cukup mengikis suara Clinton dan dua hari tidak cukup untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Coba aja, Clinton pakai email kantor.

Yang menarik lagi adalah Trump itu percaya insting. Kampanyenya jelas bukan kampanye biasa dan hasil pilpres memperlihatkan bahwa ia lebih paham ketimbang pakar politik. Ia ngga terlalu menggantungkan diri pada jajak pendapat dan lebih memilih buat terjun langsung ke lapangan dengan mengunjungi pemilih di Wisconsin dan Michigan yang menurut pakar tidak bisa dimenangkan Republik. Ia lebih suka menggelar rapat-rapat akbar seraya mengirim pesan agar warga menggunakan hak suara mereka.

Kampanyenya memang kalah rapi ketimbang Clinton. Dananya juga lebih sedikit (Trump hanya USD 293 juta sedangkan Clinton USD 718 juta), walaupun memang sih disana dana ngga terlalu ngefek di pilpres dan lebih cenderung ngefek ke pemilihan senat dan anggota kongres. Tapi faktanya Trump bisa mengalahkan Clinton.

Trump juga bisa menyentuh isu-isu yang concern di masyarakat. Mungkin salah satunya adalah masalah Islamophobia itu. Dia juga memiliki daya tarik yang tinggi.

Yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah apakah publik AS lebih memilih Trump yang kurang waras ketimbang Clinton karena sebagai manifestasi kekecewaan dan kekesalan publik AS terhadapnya negaranya sendiri? Ya, bisa jadi dan tentu ada alasan-alasan lain.

Yang penting adalah periode pilpres AS kali ini menjadi Trump’s triumph. Kemenangan yang diikuti dengan rasa was-was dunia apa yang akan terjadi berikutnya.

We’ll see.

Trump's Triumph!

by on 11/11/2016 11:10:00 PM
I’m back! Jadi kali ini mau bahas tentang pemilihan presiden Amerika kemarin. 8 November 2016 menjadi tanggal bersejarah buat A...



Disclaimer : Ini bukan kampanye. Hanya opini dan gagasan. Dan jangan tersinggung.

“Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?”

Itulah pertanyaan yang sering ditanyakan akhir-akhir ini kepada para warga Indonesia di luar Jakarta. Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Karena pemilihan Gubernur Jakarta tahun depan ini adalah hal yang memang menarik untuk dibahas, ngga cuma oleh orang Jakarta tapi oleh orang luar Jakarta.
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kali ini diikuti oleh tiga pasangan. Ada Basuki Tjahaja Purnama yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, lalu ada Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni, dan ada Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Nah, kalau saya ditanya, “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” Mungkin ini opini sekaligus jawaban saya.
Saya akan cenderung untuk memilih Anies Baswedan.

Saya memang mengagumi Pak Anies sejak lama. Beliau punya kepedulian yang cenderung naif terhadap Indonesia. Dalam darahnya mengalir darah pejuang yang menurun dari kakeknya, Abdurrahman Baswedan, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pak Anies ditawari untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Beliau ngga pernah memancing-mancing jabatan tersebut, beliau juga ngga mondar-mandir berburu jabatan tersebut. Beliau ditawari.

Anies ini memang ambisius. Ambisinya, besar dan banyak sekali orang bilang naif. Anies percaya banget bahwa beliau bisa jadi bagian yang mengubah Indonesia menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Beliau percaya beliau bisa menciptakan perubahan.

Ngga banyak yang tahu, dulu beliau pernah ikut pelatihan ketua OSIS se-Indonesia dan dari ratusan ketua OSIS yang ikut, beliau yang dipilih menjadi ketua OSIS se-Indonesia. Jabatan macam apa itu? Lalu pas beliau kuliah di UGM, dia jadi ketua senat mahasiswa. Dia bahkan dulu, udah menentang Tommy Soeharto terkait kasus BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) dan ikut memimpin demo protes terhadap SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Pak Anies juga menggantikan Nurcholish Madjid menjadi rector Paramadina. Orang macam apa coba yang dipercaya menggantikan Cak Nur jadi rektor? Masih 38 tahun pula umurnya (jadi rektor termuda). Bahkan, Pak Anies membuat pelajaran anti korupsi di Paramadina lengkap dengan kurikulumnya pula. Sampai-sampai banyak orang dari universitas lain ngga cuma dari dalam negeri tapi dari luar negeri datang ke Paramadina buat belajar kurikulum itu.

Masalah korupsi, Pak Anies ditawari dan mengambil kesempatan menjadi anggota Tim 8 KPK yang meneliti kriminalisasi Bibit-Chandra dalam kasus Cicak vs Buaya. Pak Anies juga ditawari dan mengambil kesempatan menjadi Ketua Komite Etik KPK. Ditawari jadi capres via konvensi Demokrat. Sampai ditawari jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Entah kenapa, orang selalu mempercayai dia dan memberikan dia kesempatan dan kesempatan itu dia ambil.

Makanya, saya ngga kaget ketika dia ditawari jadi calon Gubernur DKI dan mengambilnya. Karena dia memang selalu seperti itu. Coba saya tanya kepada pembaca, kalau pembaca ditawari kesempatan untuk mengubah Indonesia, lalu anda tahu kalau anda mampu, anda punya kualifikasinya, apakah anda mau mengambil kesempatan itu?

Besar kemungkinan jawaban anda tidak. Seperti umumnya orang lain dengan berbagai alasannya.
Beliau memang punya ambisi di politik dan ini bukanlah hal baru. Ambisinya pun sejalan dengan cita-citanya. Dulu, bangsa kita itu mencintai politisinya. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, itu semua adalah nama-nama politisi. Dia punya ambisi untuk mengembalikan Indonesia ke masa itu. Pengen lebih banyak orang baik dalam dunia politik dan menjadi politisi. Orang-orang seperti Ahok, Jokowi, Ridwan Kamil, Bu Risma, Ganjar Pranowo adalah contoh tren positif pada masa kini kita mulai kembali mencintai dan mengagumi politisi kita.

Saya pernah dengar Pak Anies bilang, ”Kebanyakan orang-orang baik hanya mau bayar pajak saja. Lah tapi kalau tidak ada orang baik di politik, lah terus masa uang pajak kita mau kita relakan dikelola orang jahat?”

Makanya ketika dia ditawari kesempatan baik, dia ambil karena sesuai dengan ambisinya. Menambah terus orang baik di dalam dunia politik Indonesia.

Menurut saya, ada hal baik dan tentunya buruk dari pencalonan Pak Anies jadi Gubernur ini.
Hal paling baiknya menurut saya adalah dengan munculnya Pak Anies ini (dan Agus tentunya) adalah Ahok – Anies – Agus ini menggeser nama-nama seperti Yusril Ihza, Lulung, bahkan Ahmad Dhani dan Hasnaeni Moein keluar dari bursa pencalonan Gubernur. Waktu berita isinya Yusril, Lulung sampai Ahmad Dhani mau jadi calon Gubernur, jujur saya geleng-geleng kepala mikir Jakarta kok suram begini.

Saya lebih senang, pertarungan jabatan-jabatan penting, dilakukan oleh orang-orang baik aja. Biar yang lain cuma bisa menonton. Coba dilihat, ketiga calon Gubernur yang sekarang bukan orang partai lho. Ahok udah bukan. Anies bukan. Apalagi Agus. Sehingga, konstelasinya jadi menarik : Ahok yang seorang praktisi, Anies yang seorang akademisi, dan Agus yang seorang militer.

Saya sering heran dengan perkataan orang yang bilang, “Sayang banget, orang baik diadu sama orang baik,” yah mendingan dalam semua kesempatan untuk merebut jabatan-jabatan penting negara diperebutkan oleh orang-orang baik aja. Bayangin deh, kalo stiap kesempatan menjabat menjadi pejabat publik itu diisi sama orang-orang yang baik dan juga keren, kan Indonesia jadi keren pula. Selama ini, orang-orang yang kampret ikut pencalonan karena yang baik-baik pada kaga mau.

Bayangin deh, kalo yang kampret ini ngga bisa dapat peluang buat mencalonkan diri. Pada akhirnya mereka cuma bisa berharap dan hanya numpang nama baik orang lain.
Ngomongin tentang numpang nama baik orang lain, itu ada di semua calon Gubernur kok. Ngga terkecuali.

Ahok, ditumpangi PDIP yang ketuanya ibu-ibu moody-an yang udah ngacak konstelasi politik Indonesia. Ada Hanura yang dipimpin Wiranto (punya keterkaitan dengan sebuah kasus HAM), Nasdem yang punya Surya Paloh, dan Golkar tentunya yang sekarang dipimpin Setya Novano dan sejarah sebagai partai paling besar efeknya terhadap busuknya politik sejak era Soeharto menjabat selama 32 tahun.

Anies, ditumpangi Gerindra yang punya Prabowo dengan kasus HAM yang ngga kelar-kelar dan Fadli Zon si tukang blunder serta PKS yang ada… PKSnya.

Lalu Agus yang ditumpangi Demokrat yang dipimpin bapaknya sendiri yang selama jadi presiden mengeluarkan empat album tapi pas nganggur malah sibuk ramein politik. Ada PAN yang dipertanyakan ideologinya dan hampir mirip dengan manajemen artis. PPP yang kadernya ketika jadi Menteri Agama terbukti korupsi dana penyelenggaraan haji. Dan PKB yang ssejarah buruknya terlihat paling sedikit disbanding yang lain, ada tapi ngga semegah yang lain, mungkin karena memang ngga pernah dapat kesempatan yang lebih besar aja.

Sebenarnya, masing-masing calon Gubernur itu, bawaan buruknya sama aja.

Saya kurang peduli dengan yang dibawa calon lain. Tapi Pak Anies ini nih. Punya bawaaan banyak sekali nama yang menyebalkan. Dan dia butuh teman-temannya. Kalau teman-temannya malah pergi, yang tersisa hanyalah dia, PKS, Gerindra dan Sandiaga.

Itu adalah hal yang cukup berbahaya. Teman-temannya harus sedekat mungkin dengan Pak Anies buat ngehadapin Gerindra dan PKS ini yang menurut saya seringkali berbuat blunder yang terasa menyebalkan. Contoh yang paling baru adalah ketika deklarasi pencalonan Anies-Sandiaga kemarin. Ada sesi pembacaan sebuah teks yang dianggap puisi oleh Fadli Zon yang membuat pertarungan Gubernur ini seperti perang agama. Kalau liat muka Pak Anies waktu Fadli Zon baca teks itu seolah-olah bilang, “Ini orang ngapain sih..”

‘Puisi’ Fadli Zon itu memperlihatkan bahwa dia ngga jauh beda dengan para alay fans klub bola yang kalo mendukung sebuah klub harus mencela dan merendahkan klub lain. Sementara saya dan mungkin beberapa orang lain sudah dewasa, kita bisa mendukung sesuatu tanpa harus membenci yang lain. Coba dipikir, kenapa ada barisan, “Asal bukan Madrid” atau “Asal bukan MU”? Karena umumnya fans Madrid ataupun MU itu nyebelin, kerjanya ngetawain dan ngejelekin klub lain mentang-mentang prestasi bagus. Sama halnya bisa terjadi terhadap kampanye Anies-Sandiaga nanti kalau Fadli Zon, Gerindra, dan PKS dalam kampanyenya merendahkan Ahok ataupun Agus (mostly, Ahok). Kalau Gerindra dan PKS mau menang, jangan bikin orang hilang selera orang gara-gara lihat kampanyenya yang menghina ras dan agama serta ngejatuhin orang lain. Gerindra dan PKS harus belajar itu terlebih dahulu.

Harusnya jadiin pemilihan Gubernur ini sebagai pertarungan adu gagasan, bukan ras dan agama. Ini buka pertarungan antara orang Arab vs Cina vs Jawa. Pemikiran jaman jebot banget sumpah. Ini udah tahun 2016, bro! Ini pertarungan antara orang yang kelihatan punya kinerja bagus, orang yang punya orientasi pendidikan, dan orang yang berprestasi mentereng di dunia militer.

Menurut saya, Ahok itu keren kok. Dia Gubernur yang sulit dipungkiri kinerjanya. Yang lebih keren dari Ahok adalah, kampanyenya bertumpu pada kinerja dan kebijakan. Memang sudah seharusnya begitu kalau kampanye. Minggu lalu saya ke Jakarta dan saya lihat dengan mata kepala saya sendiri banyak kali yang udah bersih dan di beberapa kali ada ekskavator yang lagi kerja.

Begini deh, kalau ngebersihin kali itu gampang, kenapa Gubernur yang dulu-dulu ngga ada yang melakukannya?

Dia juga terkenal galak terhadap bawahannya yang kerjanya ngga becus. Udah banyak contohnya.

Nah, pertanyaannya adalah, kalau saya percaya Ahok kerjanya bener, terus kenapa saya cenderung milih Pak Anies? Karena saya percaya, kita bisa menggapai hal-hal baik di Jakarta dengan cara yang lebih baik.

Menurut saya, satu-satunya kekurangan Ahok adalah caranya dalam mimpin Jakarta ini. Apalagi masalah mulutnya. Mulutnya itu seringkali jadi petaka untuk dirinya sendiri. Mulutnya itu membuat orang-orang di sekitarnya jadi sulit buat ngebelain dia. Bahkan mulutnya itu bisa membuat orang-orang baik jadi benci sama dia. Saya ngga mempermasalahkan posisinya dalam masalah pelik seperti reklamasi Jakarta dan penggusuran penduduk. Siapapun gubernurnya, bakal menginjak lumpur yang sulit seperti tadi. Tapi, cara Ahok dalam membawa dirinya di hadapan publik itu yang ngga pas buat saya.

Saya tahu ini masalah selera, teman-teman saya ada juga yang lebih suka cara Ahok yang apa adanya daripada yang sok santun. Masalahnya, saya punya keresahan yang lain yakni masalah paling besar dari Indonesia ini, persatuan.
Ahok, bakal kesulitan menjadi jembatan yang menyatukan bangsa ini dan menurut saya yang paling pas adalah Anies Baswedan.

Indonesia butuh sosok seperti Mandela. Saya ngga bilang Anies sama dengan Mandela. Yang saya bilang adalah kita butuh orang seperti Mandela. Yang sampai ditinggalkan kawan-kawannya sendiri karena memutuskan untuk berdamai dan mengajak kerjasama orang-orang yang dulu menyiksa dia dan kaumnya. Karena dia tahu yang dibutuhin negaranya adalah persatuan dan karena dia tahu persatuan lah yang akan membuat pembangunan lebih progresif.

Let me explain. Ini contoh aja ya. No offense.

Misalkan, anda benci sebuah kelompok yang udah berbuat jahat terhadap anda. Tahu ngga kenapa anda ngga pernah bisa menghilangkan rasa benci tersebut? Karena bagaimanapun anda benci dengan mereka, sbagaimanapun anda merasa mereka jahat, mereka ngga akan pernah bisa hilang. Kenapa? Karena di dalam kepala mereka itu mereka tidak merasa kalau mereka itu jahat. Mereka merasa, merekalah orang baiknya. Setiap kali anda menentang mereka, tentangan anda itu malah jadi bensin buat membakar perjuangan mereka dan mereka akan semakin yakin kalau mereka ada di jalan yang benar.

Dan umumnya, ketika anda benci terhadap seseorang atau kelompok, anda akan menghindari dialog dengan mereka, sehingga anda ngga akan pernah bisa memahami mereka. Padahal menurut saya, mencoba memahami sebelum membenci itu baik. Karena setiap kali anda mencoba memahami, at the end, anda tidak lagi membenci. Karena semua yang anda anggap ngga sejalan dengan apa yang anda pegang, akhirnya anda mendorong mereka jauh-jauh. Kalau begitu terus, kapan mau bersatu?

Mungkin pernyataan anda adalah, “Saya ngga mau bersatu dengan orang jahat,” tapi masalahnya, semua orang itu tidak pernah merasa dirinya jahat. Mungkin termasuk Prabowo ketika dia mengaku menculik mahasiswa. Beliau pasti merasa bahwa hal itu adalah hal yang paling benar untuk dilakukan demi bangsa dan negara. Saya tahu ini agak sulit dimengerti, karena mungkin anda memutuskan untuk tidak mau memahami.

Itulah prinsip yang harusnya diterapkan di Indonesia.

Itulah mengapa Indonesia butuh sebuah jembatan, dan jembatan itu yang paling cocok menurut saya adalah Pak Anies. Selain itu, menurut saya punya pemimpin seorang pendidik dan berorientasi pada pendidikan itu ideal. Bung Hatta pernah menulis, “Pemimpin adalah pendidik dan pendidik adalah pemimpin.”.

Kalau ditanya mengenai kecakapannya apa? Jadi menteri kemarin aja dipecat. Memangnya apa prestasinya pas jadi Mendikbud?

Yang saya tahu, ya. Pertama, dia membatalkan UN sebagai syarat kelulusan. Ini adalah sesuatu yang udah lama banget diperjuangkan sama aktivis pendidikan dan akhirnya tercapai pada masa Pak Anies. Kedua, menunda kurikulum 2013 kepada mayoritas sekolah dan hanya menerapkannya pada beberapa sekolah sebagai percontohan. Ketiga, menjadi menteri pertama yang melarang adanya perploncoan dan MOS di sekolah. Dalam surat edarannya, guru yang membiarkan bakal dapat hukuman. Dulu, ngga ada keterlibatan kementerian dalam masalah ini. Tahu tapi ngga bersikap, dan sekarang secara umum prakteknya udah berhenti.

Kemudian, jika kerjanya bagus, kenapa dia dipecat? Ada beberapa versi. Pertama, Pak Anies ini keliatan banget ambisinya mau jadi Presiden. Konon, kalau dia lagi kunjungan kerja seems like lagi kampanye. Yang menarik adalah ketika dia menggagas gerakan orangtua mengantar anak pada hari pertama sekolah. Gerakan ini akhirnya berdampak di lintas kementerian yang pada awalnya ngga ngeizinin pegawainya mengantar anak ke sekolah, tiba-tiba mengeluarkan surat keputusan memberi izin untuk mengantar anak ke sekolah. Ini lintas kementerian dan ngga ada koordinasi sama Presiden.

Kedua, karena jatah Menteri Pendidikan selalu jadi jatahnya Muhammadiyah. Kalau diperhatikan, dari tahun ke tahun selalu begitu dan yang ngegantiin Pak Anies ya memang dari Muhammadiyah. Memang Muhammadiyah punya kepedulian tinggi terhadap pendidikan, seperti SMA dan universitas yang sudah mereka dirikan dan jalankan. Mungkin Jokowi lelah diteriakin terus.

Ketiga, kerjanya ya memang jelek. Masalah yang sering muncul salah satunya adalah soal KIP (Kartu Indonesia Pintar) yang terhambat. Keempat, gara-gara waktu itu, Jokowi mengeluarkan instruksi buat menterinya ngga melakukan kunjungan kerja keluar Jakarta selama empat hari karena akan dilakukan sidang kabinet paripurna, dan Pak Anies ‘keluyuran’ ke Pangkep, Sulawesi Selatan buat hadir di Jumbara Nasional PMR.

Dan masih banyak versi yang ngga saya paham.

Kesimpulannya. Pertama, jika saya ditanya, “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” ya saya akan jawab akan milih Anies Baswedan. Kedua, saya ngga akan menghina atau menjelekkan kandidat lain terutama Ahok. Karena saya memang suka dengan kinerja dan prestasinya. Yang saya ngga suka dari Ahok adalah caranya memimpin Jakarta yang saya yakin ngga bakal bisa jadi pemersatu.

Tahu tidak apa artinya orang merdeka? Orang bisa disebut merdeka karena punya pilihan. Jangan dihilangkan pilihannya, tapi sediakanlah yang lebih baik.

Kalau Saya Jadi Warga Jakarta?

by on 9/25/2016 07:54:00 PM
Disclaimer : Ini bukan kampanye. Hanya opini dan gagasan. Dan jangan tersinggung. “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” ...