Disclaimer : Apa yang saya tulis ini belum tentu sejalan dengan pemikiran anda. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikirkan. Harap maklum.
Akhir pekan lalu seperti biasa, saya pergi ke toko buku untuk memuaskan hasrat saya terhadap buku. Melihat buku-buku buat saya adalah salah satu cara untuk menghilangkan stres. Setelah berkeliling  kurang lebih satu jam dan memilih buku untuk dibeli dan dibawa pulang, saya turun ke lantai dasar tepatnya ke kedai kopi dekat parkiran.

Di kedai itu, saya memesan caramel macchiato kesukaan saya. Setelah itu, saya duduk di salah satu kursi yang diletakkan di luar kedai. Sembari menunggu pesanan saya datang, saya mengambil buku yang saya beli sebelumnya dan membuka segel plastiknya. Beberapa menit kemudian, pesanan saya datang. Tidak lama berselang datang seorang wanita yang mencari kursi kosong karena kebetulan di meja lain sudah penuh. Dengan membawa minumannya sendiri dan sepiring berisi empat croissant, dia bertanya apakah dia bisa duduk di kursi kosong di hadapan saya. Saya mengiyakan. Dari basa-basi, saya mengetahui namanya adalah Hera (bukan nama sebenarnya) dan dia seorang ateis.

Sebelum melangkah ke pembicaraan saya dengan dia, saya akan menjelaskan dua hal yang cukup sering tertukar, dan saya mencoba untuk menjelaskan sesederhana mungkin.

Dua hal tersebut adalah ateis dan agnostik,

Ateisme adalah tidak percaya akan adanya Tuhan. Sedangkan agnostik adalah orang yang skeptis terhadap Tuhan dan tentunya agama. Tapi, tidak menepis kemungkinan adanya Tuhan. Kalau diberikan bukti yang kuat, bisa jadi dia akan mempercayai adanya Tuhan. Tanpa adanya bukti, seorang agnostik itu akan terus tetap mempertanyakan Tuhan dan agama. Singkatnya, agnostik itu tidak mau asal percaya.

Orang yang ateis tidak percaya sama sekali terhadap Tuhan. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada dan merupakan sebuah rekayasa umat manusia yang menginginkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Bicara soal ateis, saya jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, ada pegawai negeri yang saya lupa namanya terang-terangan mengaku ateis di Facebooknya. Lalu, dia dipukuli di kantor.

Sebenarnya, saya bingung. Kenapa ada orang yang sebal, benci, bahkan sampai menganiaya orang yang ateis. Itu kan pilihan dia. Kenapa orang-orang itu harus kesal dan sampai memukul?
Rata-rata mengatakan kalau mereka itu khawatir kalau orang-orang ateis ini akan menyebarkan pemikiran mereka dan menjadikan orang lain ateis. Beberapa yang lain ada juga yang bilang, kalau orang ateis ini jangan dikasih panggung untuk bicara karena, “Masyarakat Indonesia itu masih banyak yang labil dan mudah terpengaruh.”


Yaa itu salah iman mereka yang tidak kuat, sehingga mereka bisa labil dan mudah terpengaruh. Kalau kuat imannya, maka harusnya mereka tidak perlu khawatir akan terpengaruh. Kalau khawatir anggota keluarga kita yang terpengaruh, maka fokus kita adalah dengan mempertebal keimanan keluarga kita. Bukan mukulin yang ateis.

Memang, masyarakat Indonesia itu masih harus banget belajar menyikapi perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika itu kan maknanya adalah berbeda-beda tapi tetap (ber)satu. Dalam hal ini, beda bisa dalam bentuk suku, ras, budaya, dan agama termasuk yang tidak beragama juga.

Keadaan Hera yang menjadi seorang ateis menarik saya untuk mencoba memahami. Yaa bukan buat ikut-ikutan menjadi ateis juga. Hanya mencoba memahami.

Hera sudah menjadi ateis kurang lebih empat tahun. Katanya pilihan dirinya untuk menjadi ateis berawal dari pertanyaan-pertanyaan kritisnya yang pada akhirnya mengarahkannya ke ateisme.
Lalu, saya bertanya padanya, apakah agama dan Tuhan di mata dia. Dia menjawab kalau agama adalah bagian dari sejarah ragam budaya yang ada di dunia. Tuhan di mata dia seperti sebuah rekayasa yang diciptakan manusia sendiri atas dasar dua hal. Pertama, manusia sejak dahulu cenderung memuja hal-hal yang tidak dipahami. Dahulu manusia menyembah matahari, berhala, pohon lalu kini Tuhan yang menurutnya lebih abstrak. Kedua, bahwa manusia itu menciptakan Tuhan sebagai kontrol sosial.

Lalu, saya bertanya lagi, bagaimana cara dia menyikapi permasalahan hidup dan hal-hal yang ada di luar kemampuan dia. Hera menjawab rada panjang tapi kurang lebih mengatakan bahwa yang pasti dia tidak meminta kepada sesuatu yang mengawang-awing dan bahwa semua permasalahan ada solusi yang nyata dan membumi.

Dia sempat bertanya kepada saya, apa pendapat saya terhadap orang ateis seperti dirinya. Saya menjawab, ya biasa aja karena yang ada di dalam pikiran saya, orang ateis itu biasa aja.
Saya belajar untuk melihat apapun perbedaan yang ada sebagai ragamnya umat manusia. Saya melihat orang buta, orang yang kakinya tidak sempurna, orang ateis, orang gay itu sama seperti saya melihat orang yang tinggi, orang yang pendek, orang yang rambutnya keriting atau lurus atau botak dan lain-lain. Mungkin ini pengaruh saya banyak belajar macam-macam dan pernah pergi ke tempat yang pluralitasnya tinggi (Singapura).

Buat saya, semua perbedaan itu dapat dimaklumi. Saya ngga melihatnya sebagai sesuatu yang aneh. Mungkin ini juga yang membuat Hera ini mau terbuka terhadap saya.

Saya juga menanyakan tentang kasus pegawai negeri yang dipukul itu. Menurut dia, yang menganiaya juga harusnya dijerat pasal karena sesuatu yang jelas bahwa penganiayaan adalah sebuah pelanggaran.

Saya juga sempat menanyakan kepada salah seorang lulusan hukum (setelah pertemuan dengan Hera) dan dia membenarkan bahwa yang menganiaya harusnya ditangkap dan bisa diproses secara hukum dan bahwa sebenarnya hukum di Indonesia tidak bisa menangkap orang yang atas dasar pemikirannya. Artinya, si pegawai negeri itu harusnya tidak bisa dihukum penjara atas dasar penghinaan agama.

Si pegawai negeri itu juga terjerat pasal “pemalsuan identitas” karena di KTP tertulis Islam padahal dia ateis. Bagi saya ini aneh, kan Negara tidak menerima ateisme. Gimana caranya dia mau ngaku di KTP? Apalagi sistem e-KTP sekarang yang tidak ada pilihan “Atheis” atau minimalnya seperti yang tersedia kalau kita bikin KTP biasa dulu : Kepercayaan lain. Berarti orang-orang seperti Hera ini secara teknis tidak diterima oleh Negara. Negara tidak mau mengakui adanya mereka. Sama seperti Negara tidak mengakui mereka yang berkeyakinan di luar yang diterima Negara saat ini : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Padahal seperti yang kita tahu, di Indonesia ada banyak sekali kepercayaan tradisional. Seperti di Mentawai sana punya keyakinan sejak lama yang tidak diterima oleh Negara. Mereka juga percaya akan Tuhan yang banyak. Bayangkan, masyarakat seperti ini banyak di Indonesia. Sedih lihatnya kalau negara tidak mau mengakui keberadaan mereka. Lalu mereka warga negara apa?
Hera juga menanyakan masalah Pancasila kepada saya. Dia bertanya bagaimana dengan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan konsistensinya terhadap yang Hindu yang memiliki banyak dewa dan dewi.

Saya rada berpikir keras disini. Maklum karena ini bukan bidang saya. Tapi, saya jelaskan bahwa sering banget disalahartikan kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalimat tadi bukan berarti percaya dengan satu Tuhan. Kalimat itu menerangkan bahwa setiap orang harus punya satu buah konsep ketuhanan dalam artian harus punya agama atau kepercayaan. Kan tulisannya “Ketuhanan” bukan “Tuhan” atau “Keagamaan”. Indonesia sadar bahwa setiap orang memiliki konsep ketuhanan masing-masing dan Indonesia mau setiap masyarakatnya percaya dengan sebuah keyakinan. Itulah mengapa Hindu bisa diterima, namun itulah juga mengapa ateisme tidak diterima di Indonesia.
Ketika berbicara dengan Hera ini, saya berusaha berbicara tanpa membawa agama. Kenapa? Sederhana. Karena mereka tidak percaya agama. Seperti ada rasa percuma bawa dalil agama, kan mereka juga ngga percaya. Seperti berusaha mematikan api yang terpicu dari listrik dengan menggunakan air. Ya tidak pengaruh. Yang mesti dilakukan adalah mematikan sumber listriknya.
Tapi, saya menemukan itu susah untuk dilakukan. Orang lain juga pasti demikian. Akhirnya, saya memutuskan dengan resiko yang cukup tinggi meminta Hera untuk meyakinkan saya, bahwa Tuhan itu tidak ada.

Dia bersemangat.
Dia membuka dengan pertanyaan, “Mengapa anda beragama Islam?”

Saya paham arah pertanyaan itu, pertanyaan itu seperti berusaha menyadarkan saya bahwa agama yang saya pilih diturunkan dari orang tua saya dan kalau orang tua saya beragama Hindu kemungkinan besar agama saya Hindu, itu menandakan bahwa ngga ada iman dan keyakinan dalam pilihan saya karena itu semua semacam by default.

Saya jawab, “Karena dari saya kecil bahkan hingga sekarang saya belajar tentang Islam dan pernah membandingkan dengan agama lain, saya berpikir bahwa cara dalam Islam adalah yang paling tepat menurut saya.”

Bisa dibilang, saya melihat agama itu sebagai ragam jenis cara untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Saya bahkan percaya bahwa kita semua itu berdoa kepada Tuhan yang sama yaitu Allah SWT dan siapapun nama yang umat manusia sebut dalam doanya, yang menjawab adalah Allah SWT kalau Dia berkehendak.

Banyaknya agama adalah pilihan akan banyaknya cara berkomunikasi dan hidup atas ajaran Tuhan. Di antara semua yang ada, saya merasa bahwa Islam adalah yang paling tepat. Di muka bumi ini mungkin ada ratusan bahkan mungkin ribuan agama atau kepercayaan, walaupun ada yang menyembah batu, atau matahari atau yang lainnya, namun saya percaya sesungguhnya hanya ada satu yang mendengarkan dan kalau berkendak akan mengabulkan yaitu Allah SWT.

Hera bertanya lagi, “Apakah anda percaya Tuhan dan apa bukti keberadaan Tuhan?”
Saya jawab, “Saya percaya Allah dan saya tidak perlu bukti lain karena saya merasakan kehadiran Allah.”
“Bagaimana anda bisa tahu Tuhan itu ada, apakah anda bisa melihat dan pernah ketemu?”
“Saya tidak pernah melihat udara tapi saya bisa tahu udara itu ada.”
“Udara kan bisa dibuktikan keberadaannya dengan sains. Tuhan tidak bisa.”
“Ya itu karena sains kita belum sampai kesana atau tepatnya tidak akan sampai disana.”
“Terus buktinya apa? Masa percaya begitu saja tanpa ada bukti?” dia menanyakan ini dengan dasar dia percaya bahwa kitab suci adalah rekaan manusia.
“Terlalu sering dalam hidup saya, terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kebetulan. Kalaupun kebetulan, sudah terlalu kebetulan. Saya meyakinkan kalau itu bukan kebetulan dan ada campur tangan Allah.”
“Misalnya?”
“Waktu di SMA, bisa dibilang saya adalah yang paling tidak pintar seangkatan. Dan waktu ujian seleksi untuk masuk perguruan tinggi, bisa dibilang kecil kemungkinan saya buat lulus. Selama itu, saya berdoa dengan khusyuk, berserah diri, meminta kepada-Nya. Dan akhirnya saya lulus.”
“Tapi anda pasti belajar kan?”
“Yaa tentu saja. Tapi saya dulu di SMA juga belajar dengan intensitas yang kurang lebih sama, toh juga tetap di peringkat bawah dan minim prestasi bahkan tidak ada. Makanya saya bilang, it’s too much of coincidence. Dan kejadian-kejadian seperti ini banyak sekali terjadi dalam hidup saya. Karena saya merasakan kehadiran Allah.”
“Oke, anda percaya Tuhan karena doanya dikabulkan. Bagaimana dengan doa orang miskin yang kelaparan di berbagai belahan dunia ini? Apakah Tuhan tidak mau mengabulkan doa mereka? Mengapa Tuhan pilih kasih? Mengapa justru orang yang sangat membutuhkan bantuan malah tidak dikabulkan doanya, mengapa orang serperti anda (mungkin dia lihat berkecukupan) malah dikabulkan? Memangnya anda lebih baik daripada mereka?”
“Di mata saya, Allah memberikan keadaan seperti ini sebagai ujian bagi saya. Saya harusnya seperti merupakan jawaban dari doa mereka. Bahwa Allah akan menjawab doa umat-Nya lewat tangan umat-Nya yang lain. Doa orang kelaparan itu, harusnya dijawab oleh saya. Karena Allah memberi tahu saya akan keadaan mereka. Artinya kalau mereka yang kemiskinan dan hampir mati kelaparan sudah berdoa kepada Allah tapi keadaan mereka tidak berubah, maka bukan salah Allah. Tapi salah saya yang sadar akan keadaan itu tapi tidak berbuat apa-apa.”
“Oke. Terus mengapa Tuhan senang menghukum kalau memang katanya Tuhan itu Maha Baik? Mengapa harus ada hukuman? Kenapa yang salah manusia? Kan Tuhan Maha Kuasa termasuk kuasa untuk membuat manusia tidak berbuat kesalahan?”

Saya rada berpikir keras lagi disini untuk mengilustrasikannya.
“Begini. Saya menganggap Allah adalah pemimpin terhebat di muka jagad raya ini. Dari yang saya tahu, pemimpin yang baik itu tidak menyuruh anak buahnya. Tapi pemimpin yang baik itu mengkondisikan sebagaimana rupa, sehingga anak buahnya tahu apa yang benar untuk dilakukan. Anak buah tersebut akan melakukannya atas kesadaran penuh dan bukan karena keterpaksaan atau disuruh-suruh. Pemimpin yang baik akan mengungkapkan fakta sebanyak-banyaknya, memberikan pilihan seluas-luasnya dan dengan kemampuannya membuat anak buahnya sadar. Itulah yang Allah berikan kepada kita. Fakta, kejadian, kenyataan, pilihan ditunjukkan semua kepada kita. Kalau ada satu hal yang diserahkan kepada kita, itu adalah pengambilan keputusan. Sisanya ya di bawah kuasa Allah. Ambillah sebuah keputusan lalu jalankan. Kalau terasa berat, jalani saja terus karena Allah sudah berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita sendiri.”
“Lalu, kenapa harus ada hukuman?”
“Untuk orang yang sadar akan pilihan yang benar tapi ngga menjalaninya, maka itu bukan hukuman tapi konsekuensi. Umpamanya begini. Misalkan anda punya anak dan tentunya anda tidak mau anak anda celaka, bukan? Nah situasinya adalah kalau anak anda main sepeda dengan kecepatan tinggi dan dia bersepeda di jalan yang penuh lubang. Maka pasti anda akan menahannya lalu menerangkan apa yang akan terjadi atas kelakuannya. Anda terangkan sejelas-jelasnya, anda berikan contoh-contoh serupa, lalu anda yakin anak anda mengerti. Kemudian anak anda tetap melakukannya karena nakal dalam artian dia sadar dia salah dan tetap melakukannya. Apa yang anda lakukan? Ingat bahwa anda tidak mau anak anda itu celaka apalagi sampai meninggal. Maka pilihannya adalah menghukum anak anda biar dia jera. Hukuman itu bukan sama sekali karena kita benci tapi karena kita sangat mencintai anak kita. Toh juga setelah menghukum anak anda, anda akan tetap mencintai anak anda. Nah, itu ilustrasinya baru satu anak. Bayangkan anda adalah orang tua dari tujuh miliar anak. Bayangkan bagaimana cara memimpin dengan baik dengan jumlah segitu banyaknya. Itulah mengapa Allah adalah pemimpin yang terbaik bagi umat-Nya dan oleh kita umat-Nya tidak akan bisa dipahami. Karena banyak yang tidak paham, maka banyak yang enggan untuk menurut dan percaya.”

Setelah penjelasan panjang saya itu dia izin undur diri karena harus ke bandara untuk mengejar penerbangannya. Tak lupa dia berterima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan tadi. Saya mempersilahkan.

Di benak orang yang tidak percaya, saya pasti tampak bodoh dan naif. Tapi, dibenak kita yang beragama, mereka yang tidak percaya Tuhan adalah bodoh dan naif. Terus kita mesti bagaimana?
Gampang. Kita harus menerima dan terbuka. Terbuka dalam artian kita mungkin tidak setuju dengan opini dan pilihan mereka, tapi kita bisa memahami bahwa perbedaan bukan hanya karena pilihan, tapi juga keadaan yang diciptakan Tuhan. Bukan urusan kita untuk membuat seisi Bumi jadi seragam.
Tugas kita adalah hidup nyaman, damai, dan bahagia dengan perbedaan tersebut. Biarlah, ada orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Tapi mari kita yang percaya akan kuasa Tuhan, yang membantu menjamin mereka pun bisa hidup dengan nyaman dan tentram bersama.

Kepercayaan

by on 11/23/2016 11:06:00 AM
Disclaimer : Apa yang saya tulis ini belum tentu sejalan dengan pemikiran anda. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya pikirkan. Ha...



I’m back!

Jadi kali ini mau bahas tentang pemilihan presiden Amerika kemarin. 8 November 2016 menjadi tanggal bersejarah buat Amerika, seorang Donald J. Trump terpilih menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat. Can you believe that? Siapa yang mengira sebelumnya bahwa Trump yang akan menggantikan Obama. Mungkin banyak orang Amerika maupun dunia masih tidak menyangka bahwa Trump akan menang melawan Clinton di pilpres kemarin.

Pada awalnya, pencalonan Donald Trump sebagai bakal calon presiden Amerika Serikat dari partai Republik itu banyak dipandang sebelah mata oleh mayoritas orang. Bahkan pada pemilihan calon presiden dari partai Republik, gua lebih menjagokan Ted Cruz. Trump yang bicaranya relatif blak-blakan dan pembawaan yang cenderung konyol ternyata mampu membuat dia menarik perhatian masyarakat AS. Dan menurut gua ini adalah pilpres AS terseru yang pernah gua amati. Sampai-sampai ngga fokus dengerin dosen pas kuliah gara-gara mantengin hasil pilpres kemarin.

Bagaimana ngga? Pemilu kali ini sangat membagi pilihan rakyat AS. Sering terjadi adu pernyataan dan pencitraan antar kedua kubu di berbagai media. Sekilas memang kelihatannya banyak orang lebih menjagokan Clinton yang lebih berpengalaman ketimbang Trump yang selain tidak berpengalaman juga rasis tingkat dewa.

Dia kelihatan mengidap Islamophobia hingga di dalam kampanyenya sering mengatakan bahwa dia berkeinginan untuk membatasi imigran di AS. Sebuah pencitraan yang salah dan tidak mengambil simpati dari publik. Tapi, sekarang kita tidak bisa menyangkal bahwa Trump memenangkan pemilu bahkan di daerah-daerah yang notabene adalah basis pendukung Demokrat dan Hillary malah dimenangkan Trump. Gila ngga tuh?

Jadi apa yang menyebabkan Trump bisa membalikkan semua perkiraan yang dibuat sebelumnya oleh para pakar ataupun analis?

Survei-survei yang beredar sebelum pemilihan menunjukkan bahwa Hillary akan menang walaupun dengan perbedaan yang tipis. Menurut gua, banyak pendukung Trump yang malu mengakui bahwa mereka memilih Trump kala itu. Tapi, faktanya mereka tetap memilih Trump. Mungkin mereka sudah tersenyum lebar sekarang.

Angka partisipasi pemilu di AS cukup rendah. Menurut salah satu lembaga survei independen disana menunjukkan kalau angka partisipasi pemilu disana tidak mencapai 60 persen. Bahkan untuk pemilihan senat atau anggota kongres hanya sekitar 40 persen. Mungkin sekarang mereka menyesal ngga ikut memilih.

Lalu, suara di negara bagian Ohio, Florida dan North Carolina semuanya mengarah ke Trump. Apa maknanya? Kelas pekerja kulit putih disana apalagi yang ngga mengenyam kuliah baik laki-laki maupun perempuan, beramai-ramai meninggalkan Demokrat dan memilih calon Republik. Mereka yang tinggal di pedesaan menggunakan suaranya, antara lain dengan tujuan suara mereka didengar. Mereka inilah yang selama ini merasa ditinggalkan kalangan yang mapan.

Waktu gua liat Wisconsin dimenangkan Trump, gua udah yakin bahwa Clinton udah ngga punya harapan lagi.

Trump seperti memakai baju antipeluru. Peluru disini maksudnya adalah dampak-dampak buruk yang menimpa dirinya. Trump mengejek politikus dan veteran perang, John McCain (lawan Obama di pilpres 2008). Pernah adu mulut dengan pembawa acara Fox News yang gua lupa siapa namanya. Pernah juga mengejek peserta ratu kecantikan dan setengah hati saat meminta maaf dalam kasus video yang menunjukkan ia sangat merendahkan perempuan. Juga tampil tidak meyakinkan di tiga debat presiden kemarin. Tapi ternyata itu ngga berdampak buruk buat Trump. Mungkin juga saking banyaknya kontroversi yang ia munculkan datang bertubi-tubi, public jadi ngga punya waktu buat mencernanya.

Bisa dibilang, Trump ngga hanya melawan Demokrat tapi juga dengan para tokoh Republik, seperti McCain yang satu per satu meninggalkannya. Tapi ia tetap menang. Para pesaingnya di kubu Republik seperti Chris Christie, Marco Rubio, Ben Carson bahkan Ted Cruz bertekuk lutut. Bisa saja, dia menjadi popular karena berani melawan para tokoh Republik. Langkahnya itu mengesankan dia adalah orang luar atau independen. Status ini kelihatan ketika para warga AS sudah ngga mau melihat tokoh-tokoh politik mapan di panggung politik AS. Sebenarnya, Sanders dari Demokrat dan Cruz dari Republik udah menangkap suasana ini. Tapi malah Trump yang merebutnya dan berhasil mengantarkannya ke Gedung Putih.

Yang menarik adalah kasus e-mail Clinton ketika menjadi Menlu AS yang digembor-gemborkan Trump di berbagai kesempatan. Sampai tiga minggu lalu, orang-orang masih yakin Hillary akan menang. Sampai saatnya James Comey, direktur FBI mengeluarkan surat keputusan bahwa FBI akan membuka lagi kasus penggunaan email pribadi dalam korespondensi Clinton sebagai Menlu AS. Walaupun hasilnya tidak terbukti, namun waktu dua minggu hingga dua hari sebelum pemilihan cukup mengikis suara Clinton dan dua hari tidak cukup untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Coba aja, Clinton pakai email kantor.

Yang menarik lagi adalah Trump itu percaya insting. Kampanyenya jelas bukan kampanye biasa dan hasil pilpres memperlihatkan bahwa ia lebih paham ketimbang pakar politik. Ia ngga terlalu menggantungkan diri pada jajak pendapat dan lebih memilih buat terjun langsung ke lapangan dengan mengunjungi pemilih di Wisconsin dan Michigan yang menurut pakar tidak bisa dimenangkan Republik. Ia lebih suka menggelar rapat-rapat akbar seraya mengirim pesan agar warga menggunakan hak suara mereka.

Kampanyenya memang kalah rapi ketimbang Clinton. Dananya juga lebih sedikit (Trump hanya USD 293 juta sedangkan Clinton USD 718 juta), walaupun memang sih disana dana ngga terlalu ngefek di pilpres dan lebih cenderung ngefek ke pemilihan senat dan anggota kongres. Tapi faktanya Trump bisa mengalahkan Clinton.

Trump juga bisa menyentuh isu-isu yang concern di masyarakat. Mungkin salah satunya adalah masalah Islamophobia itu. Dia juga memiliki daya tarik yang tinggi.

Yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah apakah publik AS lebih memilih Trump yang kurang waras ketimbang Clinton karena sebagai manifestasi kekecewaan dan kekesalan publik AS terhadapnya negaranya sendiri? Ya, bisa jadi dan tentu ada alasan-alasan lain.

Yang penting adalah periode pilpres AS kali ini menjadi Trump’s triumph. Kemenangan yang diikuti dengan rasa was-was dunia apa yang akan terjadi berikutnya.

We’ll see.

Trump's Triumph!

by on 11/11/2016 11:10:00 PM
I’m back! Jadi kali ini mau bahas tentang pemilihan presiden Amerika kemarin. 8 November 2016 menjadi tanggal bersejarah buat A...

I’ll tell you a story about someone I know. A guy who broke up with his loving girlfriend a few days ago. Just a person that I know. He’s taking it hard and really sad.

What do you think? No, this isn’t my story. It’s just a story of a person I know.

He loved her so much. Says he falls for her even
though they met over a year. He used to tell girls that he was single. But he even showed her off to his friends.

Even his mom thought she was pretty. Just like how his mom told him when he was young. She said that his girlfriend was perfect from head to toe. That’s how much his mom liked her.

He took her home every night on a taxi. Then he would take the last bus back home. It was hard work but he wanted to be with her at least another minute. Because when he was with her, his worries melted away.

They were so happy like that. The story is good till here, happiness times one hundred. But who is that person? Uh.. just someone I know.

He said something started to feel strange at some point. They used to be so close but they started to feel awkward. He said he had no idea why. After a while, he found out that she was leaving far away.

She said, let’s stop this now, as she cried and he tried clinging onto her white hands like a lobster. But seeing her be in even more pain, he loosened his pincers. I told him, just face it, she didn’t love you.

But he kept denying it. He kept begging like a hungry beggar. What she gave him was not love but pity. I’m so sad.

Did I just say “I’m”? I guess I got too into the story, you understand, right? But you ask how I know the story this well? Oh because we’re really close.

These kinds of things happen to people

It’s so funny, isn’t it childish?

But what do you think? What do you think that guy should do? Should he hold onto her or should he just give up? Am I being too serious?

I’ll tell you a story about someone you know. A guy who broke up with his loving girlfriend a few days ago. Yeah, that guy is me. It’s really hard and I’m really sad.

So what should I do? Nah, never mind.

Just.. just…

Someone I Know

by on 11/01/2016 10:45:00 PM
I’ll tell you a story about someone I know. A guy who broke up with his loving girlfriend a few days ago. Just a person that I know. He’s ta...



Disclaimer : Ini bukan kampanye. Hanya opini dan gagasan. Dan jangan tersinggung.

“Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?”

Itulah pertanyaan yang sering ditanyakan akhir-akhir ini kepada para warga Indonesia di luar Jakarta. Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Karena pemilihan Gubernur Jakarta tahun depan ini adalah hal yang memang menarik untuk dibahas, ngga cuma oleh orang Jakarta tapi oleh orang luar Jakarta.
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kali ini diikuti oleh tiga pasangan. Ada Basuki Tjahaja Purnama yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, lalu ada Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni, dan ada Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Nah, kalau saya ditanya, “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” Mungkin ini opini sekaligus jawaban saya.
Saya akan cenderung untuk memilih Anies Baswedan.

Saya memang mengagumi Pak Anies sejak lama. Beliau punya kepedulian yang cenderung naif terhadap Indonesia. Dalam darahnya mengalir darah pejuang yang menurun dari kakeknya, Abdurrahman Baswedan, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pak Anies ditawari untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Beliau ngga pernah memancing-mancing jabatan tersebut, beliau juga ngga mondar-mandir berburu jabatan tersebut. Beliau ditawari.

Anies ini memang ambisius. Ambisinya, besar dan banyak sekali orang bilang naif. Anies percaya banget bahwa beliau bisa jadi bagian yang mengubah Indonesia menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Beliau percaya beliau bisa menciptakan perubahan.

Ngga banyak yang tahu, dulu beliau pernah ikut pelatihan ketua OSIS se-Indonesia dan dari ratusan ketua OSIS yang ikut, beliau yang dipilih menjadi ketua OSIS se-Indonesia. Jabatan macam apa itu? Lalu pas beliau kuliah di UGM, dia jadi ketua senat mahasiswa. Dia bahkan dulu, udah menentang Tommy Soeharto terkait kasus BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) dan ikut memimpin demo protes terhadap SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Pak Anies juga menggantikan Nurcholish Madjid menjadi rector Paramadina. Orang macam apa coba yang dipercaya menggantikan Cak Nur jadi rektor? Masih 38 tahun pula umurnya (jadi rektor termuda). Bahkan, Pak Anies membuat pelajaran anti korupsi di Paramadina lengkap dengan kurikulumnya pula. Sampai-sampai banyak orang dari universitas lain ngga cuma dari dalam negeri tapi dari luar negeri datang ke Paramadina buat belajar kurikulum itu.

Masalah korupsi, Pak Anies ditawari dan mengambil kesempatan menjadi anggota Tim 8 KPK yang meneliti kriminalisasi Bibit-Chandra dalam kasus Cicak vs Buaya. Pak Anies juga ditawari dan mengambil kesempatan menjadi Ketua Komite Etik KPK. Ditawari jadi capres via konvensi Demokrat. Sampai ditawari jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Entah kenapa, orang selalu mempercayai dia dan memberikan dia kesempatan dan kesempatan itu dia ambil.

Makanya, saya ngga kaget ketika dia ditawari jadi calon Gubernur DKI dan mengambilnya. Karena dia memang selalu seperti itu. Coba saya tanya kepada pembaca, kalau pembaca ditawari kesempatan untuk mengubah Indonesia, lalu anda tahu kalau anda mampu, anda punya kualifikasinya, apakah anda mau mengambil kesempatan itu?

Besar kemungkinan jawaban anda tidak. Seperti umumnya orang lain dengan berbagai alasannya.
Beliau memang punya ambisi di politik dan ini bukanlah hal baru. Ambisinya pun sejalan dengan cita-citanya. Dulu, bangsa kita itu mencintai politisinya. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, itu semua adalah nama-nama politisi. Dia punya ambisi untuk mengembalikan Indonesia ke masa itu. Pengen lebih banyak orang baik dalam dunia politik dan menjadi politisi. Orang-orang seperti Ahok, Jokowi, Ridwan Kamil, Bu Risma, Ganjar Pranowo adalah contoh tren positif pada masa kini kita mulai kembali mencintai dan mengagumi politisi kita.

Saya pernah dengar Pak Anies bilang, ”Kebanyakan orang-orang baik hanya mau bayar pajak saja. Lah tapi kalau tidak ada orang baik di politik, lah terus masa uang pajak kita mau kita relakan dikelola orang jahat?”

Makanya ketika dia ditawari kesempatan baik, dia ambil karena sesuai dengan ambisinya. Menambah terus orang baik di dalam dunia politik Indonesia.

Menurut saya, ada hal baik dan tentunya buruk dari pencalonan Pak Anies jadi Gubernur ini.
Hal paling baiknya menurut saya adalah dengan munculnya Pak Anies ini (dan Agus tentunya) adalah Ahok – Anies – Agus ini menggeser nama-nama seperti Yusril Ihza, Lulung, bahkan Ahmad Dhani dan Hasnaeni Moein keluar dari bursa pencalonan Gubernur. Waktu berita isinya Yusril, Lulung sampai Ahmad Dhani mau jadi calon Gubernur, jujur saya geleng-geleng kepala mikir Jakarta kok suram begini.

Saya lebih senang, pertarungan jabatan-jabatan penting, dilakukan oleh orang-orang baik aja. Biar yang lain cuma bisa menonton. Coba dilihat, ketiga calon Gubernur yang sekarang bukan orang partai lho. Ahok udah bukan. Anies bukan. Apalagi Agus. Sehingga, konstelasinya jadi menarik : Ahok yang seorang praktisi, Anies yang seorang akademisi, dan Agus yang seorang militer.

Saya sering heran dengan perkataan orang yang bilang, “Sayang banget, orang baik diadu sama orang baik,” yah mendingan dalam semua kesempatan untuk merebut jabatan-jabatan penting negara diperebutkan oleh orang-orang baik aja. Bayangin deh, kalo stiap kesempatan menjabat menjadi pejabat publik itu diisi sama orang-orang yang baik dan juga keren, kan Indonesia jadi keren pula. Selama ini, orang-orang yang kampret ikut pencalonan karena yang baik-baik pada kaga mau.

Bayangin deh, kalo yang kampret ini ngga bisa dapat peluang buat mencalonkan diri. Pada akhirnya mereka cuma bisa berharap dan hanya numpang nama baik orang lain.
Ngomongin tentang numpang nama baik orang lain, itu ada di semua calon Gubernur kok. Ngga terkecuali.

Ahok, ditumpangi PDIP yang ketuanya ibu-ibu moody-an yang udah ngacak konstelasi politik Indonesia. Ada Hanura yang dipimpin Wiranto (punya keterkaitan dengan sebuah kasus HAM), Nasdem yang punya Surya Paloh, dan Golkar tentunya yang sekarang dipimpin Setya Novano dan sejarah sebagai partai paling besar efeknya terhadap busuknya politik sejak era Soeharto menjabat selama 32 tahun.

Anies, ditumpangi Gerindra yang punya Prabowo dengan kasus HAM yang ngga kelar-kelar dan Fadli Zon si tukang blunder serta PKS yang ada… PKSnya.

Lalu Agus yang ditumpangi Demokrat yang dipimpin bapaknya sendiri yang selama jadi presiden mengeluarkan empat album tapi pas nganggur malah sibuk ramein politik. Ada PAN yang dipertanyakan ideologinya dan hampir mirip dengan manajemen artis. PPP yang kadernya ketika jadi Menteri Agama terbukti korupsi dana penyelenggaraan haji. Dan PKB yang ssejarah buruknya terlihat paling sedikit disbanding yang lain, ada tapi ngga semegah yang lain, mungkin karena memang ngga pernah dapat kesempatan yang lebih besar aja.

Sebenarnya, masing-masing calon Gubernur itu, bawaan buruknya sama aja.

Saya kurang peduli dengan yang dibawa calon lain. Tapi Pak Anies ini nih. Punya bawaaan banyak sekali nama yang menyebalkan. Dan dia butuh teman-temannya. Kalau teman-temannya malah pergi, yang tersisa hanyalah dia, PKS, Gerindra dan Sandiaga.

Itu adalah hal yang cukup berbahaya. Teman-temannya harus sedekat mungkin dengan Pak Anies buat ngehadapin Gerindra dan PKS ini yang menurut saya seringkali berbuat blunder yang terasa menyebalkan. Contoh yang paling baru adalah ketika deklarasi pencalonan Anies-Sandiaga kemarin. Ada sesi pembacaan sebuah teks yang dianggap puisi oleh Fadli Zon yang membuat pertarungan Gubernur ini seperti perang agama. Kalau liat muka Pak Anies waktu Fadli Zon baca teks itu seolah-olah bilang, “Ini orang ngapain sih..”

‘Puisi’ Fadli Zon itu memperlihatkan bahwa dia ngga jauh beda dengan para alay fans klub bola yang kalo mendukung sebuah klub harus mencela dan merendahkan klub lain. Sementara saya dan mungkin beberapa orang lain sudah dewasa, kita bisa mendukung sesuatu tanpa harus membenci yang lain. Coba dipikir, kenapa ada barisan, “Asal bukan Madrid” atau “Asal bukan MU”? Karena umumnya fans Madrid ataupun MU itu nyebelin, kerjanya ngetawain dan ngejelekin klub lain mentang-mentang prestasi bagus. Sama halnya bisa terjadi terhadap kampanye Anies-Sandiaga nanti kalau Fadli Zon, Gerindra, dan PKS dalam kampanyenya merendahkan Ahok ataupun Agus (mostly, Ahok). Kalau Gerindra dan PKS mau menang, jangan bikin orang hilang selera orang gara-gara lihat kampanyenya yang menghina ras dan agama serta ngejatuhin orang lain. Gerindra dan PKS harus belajar itu terlebih dahulu.

Harusnya jadiin pemilihan Gubernur ini sebagai pertarungan adu gagasan, bukan ras dan agama. Ini buka pertarungan antara orang Arab vs Cina vs Jawa. Pemikiran jaman jebot banget sumpah. Ini udah tahun 2016, bro! Ini pertarungan antara orang yang kelihatan punya kinerja bagus, orang yang punya orientasi pendidikan, dan orang yang berprestasi mentereng di dunia militer.

Menurut saya, Ahok itu keren kok. Dia Gubernur yang sulit dipungkiri kinerjanya. Yang lebih keren dari Ahok adalah, kampanyenya bertumpu pada kinerja dan kebijakan. Memang sudah seharusnya begitu kalau kampanye. Minggu lalu saya ke Jakarta dan saya lihat dengan mata kepala saya sendiri banyak kali yang udah bersih dan di beberapa kali ada ekskavator yang lagi kerja.

Begini deh, kalau ngebersihin kali itu gampang, kenapa Gubernur yang dulu-dulu ngga ada yang melakukannya?

Dia juga terkenal galak terhadap bawahannya yang kerjanya ngga becus. Udah banyak contohnya.

Nah, pertanyaannya adalah, kalau saya percaya Ahok kerjanya bener, terus kenapa saya cenderung milih Pak Anies? Karena saya percaya, kita bisa menggapai hal-hal baik di Jakarta dengan cara yang lebih baik.

Menurut saya, satu-satunya kekurangan Ahok adalah caranya dalam mimpin Jakarta ini. Apalagi masalah mulutnya. Mulutnya itu seringkali jadi petaka untuk dirinya sendiri. Mulutnya itu membuat orang-orang di sekitarnya jadi sulit buat ngebelain dia. Bahkan mulutnya itu bisa membuat orang-orang baik jadi benci sama dia. Saya ngga mempermasalahkan posisinya dalam masalah pelik seperti reklamasi Jakarta dan penggusuran penduduk. Siapapun gubernurnya, bakal menginjak lumpur yang sulit seperti tadi. Tapi, cara Ahok dalam membawa dirinya di hadapan publik itu yang ngga pas buat saya.

Saya tahu ini masalah selera, teman-teman saya ada juga yang lebih suka cara Ahok yang apa adanya daripada yang sok santun. Masalahnya, saya punya keresahan yang lain yakni masalah paling besar dari Indonesia ini, persatuan.
Ahok, bakal kesulitan menjadi jembatan yang menyatukan bangsa ini dan menurut saya yang paling pas adalah Anies Baswedan.

Indonesia butuh sosok seperti Mandela. Saya ngga bilang Anies sama dengan Mandela. Yang saya bilang adalah kita butuh orang seperti Mandela. Yang sampai ditinggalkan kawan-kawannya sendiri karena memutuskan untuk berdamai dan mengajak kerjasama orang-orang yang dulu menyiksa dia dan kaumnya. Karena dia tahu yang dibutuhin negaranya adalah persatuan dan karena dia tahu persatuan lah yang akan membuat pembangunan lebih progresif.

Let me explain. Ini contoh aja ya. No offense.

Misalkan, anda benci sebuah kelompok yang udah berbuat jahat terhadap anda. Tahu ngga kenapa anda ngga pernah bisa menghilangkan rasa benci tersebut? Karena bagaimanapun anda benci dengan mereka, sbagaimanapun anda merasa mereka jahat, mereka ngga akan pernah bisa hilang. Kenapa? Karena di dalam kepala mereka itu mereka tidak merasa kalau mereka itu jahat. Mereka merasa, merekalah orang baiknya. Setiap kali anda menentang mereka, tentangan anda itu malah jadi bensin buat membakar perjuangan mereka dan mereka akan semakin yakin kalau mereka ada di jalan yang benar.

Dan umumnya, ketika anda benci terhadap seseorang atau kelompok, anda akan menghindari dialog dengan mereka, sehingga anda ngga akan pernah bisa memahami mereka. Padahal menurut saya, mencoba memahami sebelum membenci itu baik. Karena setiap kali anda mencoba memahami, at the end, anda tidak lagi membenci. Karena semua yang anda anggap ngga sejalan dengan apa yang anda pegang, akhirnya anda mendorong mereka jauh-jauh. Kalau begitu terus, kapan mau bersatu?

Mungkin pernyataan anda adalah, “Saya ngga mau bersatu dengan orang jahat,” tapi masalahnya, semua orang itu tidak pernah merasa dirinya jahat. Mungkin termasuk Prabowo ketika dia mengaku menculik mahasiswa. Beliau pasti merasa bahwa hal itu adalah hal yang paling benar untuk dilakukan demi bangsa dan negara. Saya tahu ini agak sulit dimengerti, karena mungkin anda memutuskan untuk tidak mau memahami.

Itulah prinsip yang harusnya diterapkan di Indonesia.

Itulah mengapa Indonesia butuh sebuah jembatan, dan jembatan itu yang paling cocok menurut saya adalah Pak Anies. Selain itu, menurut saya punya pemimpin seorang pendidik dan berorientasi pada pendidikan itu ideal. Bung Hatta pernah menulis, “Pemimpin adalah pendidik dan pendidik adalah pemimpin.”.

Kalau ditanya mengenai kecakapannya apa? Jadi menteri kemarin aja dipecat. Memangnya apa prestasinya pas jadi Mendikbud?

Yang saya tahu, ya. Pertama, dia membatalkan UN sebagai syarat kelulusan. Ini adalah sesuatu yang udah lama banget diperjuangkan sama aktivis pendidikan dan akhirnya tercapai pada masa Pak Anies. Kedua, menunda kurikulum 2013 kepada mayoritas sekolah dan hanya menerapkannya pada beberapa sekolah sebagai percontohan. Ketiga, menjadi menteri pertama yang melarang adanya perploncoan dan MOS di sekolah. Dalam surat edarannya, guru yang membiarkan bakal dapat hukuman. Dulu, ngga ada keterlibatan kementerian dalam masalah ini. Tahu tapi ngga bersikap, dan sekarang secara umum prakteknya udah berhenti.

Kemudian, jika kerjanya bagus, kenapa dia dipecat? Ada beberapa versi. Pertama, Pak Anies ini keliatan banget ambisinya mau jadi Presiden. Konon, kalau dia lagi kunjungan kerja seems like lagi kampanye. Yang menarik adalah ketika dia menggagas gerakan orangtua mengantar anak pada hari pertama sekolah. Gerakan ini akhirnya berdampak di lintas kementerian yang pada awalnya ngga ngeizinin pegawainya mengantar anak ke sekolah, tiba-tiba mengeluarkan surat keputusan memberi izin untuk mengantar anak ke sekolah. Ini lintas kementerian dan ngga ada koordinasi sama Presiden.

Kedua, karena jatah Menteri Pendidikan selalu jadi jatahnya Muhammadiyah. Kalau diperhatikan, dari tahun ke tahun selalu begitu dan yang ngegantiin Pak Anies ya memang dari Muhammadiyah. Memang Muhammadiyah punya kepedulian tinggi terhadap pendidikan, seperti SMA dan universitas yang sudah mereka dirikan dan jalankan. Mungkin Jokowi lelah diteriakin terus.

Ketiga, kerjanya ya memang jelek. Masalah yang sering muncul salah satunya adalah soal KIP (Kartu Indonesia Pintar) yang terhambat. Keempat, gara-gara waktu itu, Jokowi mengeluarkan instruksi buat menterinya ngga melakukan kunjungan kerja keluar Jakarta selama empat hari karena akan dilakukan sidang kabinet paripurna, dan Pak Anies ‘keluyuran’ ke Pangkep, Sulawesi Selatan buat hadir di Jumbara Nasional PMR.

Dan masih banyak versi yang ngga saya paham.

Kesimpulannya. Pertama, jika saya ditanya, “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” ya saya akan jawab akan milih Anies Baswedan. Kedua, saya ngga akan menghina atau menjelekkan kandidat lain terutama Ahok. Karena saya memang suka dengan kinerja dan prestasinya. Yang saya ngga suka dari Ahok adalah caranya memimpin Jakarta yang saya yakin ngga bakal bisa jadi pemersatu.

Tahu tidak apa artinya orang merdeka? Orang bisa disebut merdeka karena punya pilihan. Jangan dihilangkan pilihannya, tapi sediakanlah yang lebih baik.

Kalau Saya Jadi Warga Jakarta?

by on 9/25/2016 07:54:00 PM
Disclaimer : Ini bukan kampanye. Hanya opini dan gagasan. Dan jangan tersinggung. “Kalau jadi warga Jakarta, mau milih siapa?” ...