Kemarin pas di Surabaya, ketika tinggal gua sendiri karena yang lainnya udah pulang duluan, ya gua putuskan buat jalan-jalan sendiri sekalian nonton Now You See Me 2 yang gua ketinggalan banget di Ciputra World.
Nah, singkat cerita abis gua beli tiket nonton itu (sendirian) gua nunggu di depan pasangan yang pake baju dengan gambar tentang Singapura gitu. Yang cewe pake baju yang gambar Merlion sedangkan yang cowo pakai baju yang gambar berbagai larangan di Singapura plus dendanya.
Emang sih Singapura terkenal banget dengan julukan 'Fine City', kota denda ya bukan kota baik. Karena segalanya seakan dilarang di sini dan tentu saja ada dendanya. Makan permen karet aja dilarang apalagi buang sembarangan.
Singapura ini yang luasnya ga lebih gede dari Jakarta, cukup otoriter memang. Waktu gua bicara sama salah seorang kenalan gua yang pernah tinggal di sana, kalau misalnya ketahuan ikut demo atau aksi di sana, hampir bisa dipastikan mereka ngga bakal dapat pekerjaan. Coba kalo peraturan itu diterapkan di Indonesia, yang nganggur malah tambah banyak jadinya.
Kalo kalian pikir, di Singapura itu kan banyak imigran yang berarti penuh dengan keragaman. Nah, dalam keragaman itu pasti ada selalu perbedaan pendapat, kemauan, kebutuhan, dan karenanya butuh untuk menyuarakan keresahan. Di negara yang demokratis, semua orang punya hak untuk menyatakan pendapat. Tapi di Singapura tidak demikian.
Kalau gua sih, ngga pernah percaya dampak pelarangan. Gua lebih percaya pada pendewasaan yang akan membuat kita sebagai bangsa yang sadar mana pilihan yang baik dan mana pilihan yang buruk.
Mungkin ini agak susah diterima oleh banyak pembaca. Segala pelarangan di Indonesia sebenarnya gua kurang setuju. Ada pelarangan situs porno, dan situs radikal, pelarangan penjualan miras, pelarangan prostitusi,  dan semuanya merupakan usaha yang nyaris sia-sia di mata gua.
Menkominfo kita, Rudiantara mengatakan bahwa sudah 800 ribu situs porno yang telah diblokir sejak program pemblokiran dimulai. Sounds big number, ha? Tapi, beliau juga bilang ketika 10 situs porno diblokir bakal muncul 20 situs porno yang baru. Jadi, berapa banyak lagi uang rakyat yang dipakai untuk menggarami laut?
Waktu pemerintah Jakarta mulai menerapkan peraturan pelarangan penjualan minuman keras di minimarket dan sejenisnya, ngga lama kemudian masuk bulan Ramadhan. Lalu marak tawuran bertajuk 'Sahur On The Road'. Pas ditangkap ternyata pada bawa minuman keras dan mabuk alkohol. Lalu, apa maknanya larangan tersebut?
Kalau konteks prostitusi (berat ini bahasannya) mungkin bukan pada pelarangannya tapi pada pembubaran lokalisasi. Tempat sejenis Kramat Tunggak, Dolly, atau Saritem itu sudah dibubarkan. Lalu apakah praktik prostitusi itu hilang? Sama sekali ngga. Justru menjadi tersebar dan ngga bisa terkontrol.
Penutupan situs radikal juga mencemaskan menurut gua. Pemerintah memutuskan untuk menutup semua situs yang dianggap menyebarkan paham-paham radikal. Dan mirisnya, kebanyakan situs yang ditutup adalah situs Islam.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, tolak ukur radikal itu apa? Kalau pemerintah kita otoriter, lalu gua membuat situs yang mengajak buat memberontak, apa gua radikal? Kemudian apakah situs gua bakal ditutup? Kalau pemerintahnya selalu menutup situs yang menurut mereka itu radikal, apakah kelak kebebasan berekspresi kita bakal direnggut?
Ini seperti keogahan gua buat menyerukan pembubaran FPI. Karena FPI itu berhak untuk berkumpul dan berorganisasi. Kalau ada anggotanya yang melanggar hukum, barulah ditangkap. Tapi pembubaran FPI hanya akan melahirkan mereka dengan nama yang berbeda. Lantas apa gunanya pembubaran itu?
Kalau di Amerika Serikat sana gitu-gitu bisa jadi bahan pelajaran buat kita. Negara itu sangat paranoid terhadap segala macam yang berbau komunisme, sosialisme atau apapun yang kekiri-kirian. Namun di Amerika Serikat ada partai komunis. Namanya itu CPUSA (Communist Party United States of America) yang didirikan pada tahun 1919. Kehadiran partai komunis disana itu ngga sama sekali dilarang. Walaupun akhirnya peminatnya sedikit sekali karena masyarakat disana sudah beropini buat menentang paham komunis. Singkatnya, walaupun mereka paranoid terhadap paham komunis tetapi mereka ngga membumihanguskan paham tersebut.
Sama halnya dalam hubungan, kalau lu punya mantan dan lu paranoid terhadap hubungan lu dengan dia bukan berarti lu bisa membumihanguskan segalanya tentang mantan lu dari diri lu. That's not good. Skip.
Because, you can't kill an idea. Dan Amerika paham maksud itu. Yang bisa dilakukan adalah beradu ide dan gagasan agar gagasan yang satu menjadi lebih kuat sedangkan gagasan lainnya menjadi lemah.
Kedewasaan dan pendidikan merupakan kunci sukses sebuah negara demokrasi.
Negara demokrasi itu percaya punya pilihan. Negara demokrasi itu tidak anti-ini dan anti-itu. Soalnya, kalau pilihannya dihilangkan menjadi sedikit, apalagi kalau cuma satu pilihan, demokrasi  jenis apaan itu?

Larangan

by on 7/20/2016 02:54:00 PM
Kemarin pas di Surabaya, ketika tinggal gua sendiri karena yang lainnya udah pulang duluan, ya gua putuskan buat jalan-jalan sendiri s...

Pekan yang penuh dengan mixed feelings. Selalu ada tawa, tangis, senang, sedih, dan lainnya. Petualangan yang sedang mendekati akhirnya.

Entah ya dalam sepekan ini sering dapat waktu sendiri buat merenung. Memikirkan banyak hal. Mulai dari subuh ketika hari raya Idul Fitri, malam dibawah jutaan bintang di pulau, penerbangan ke Surabaya, hingga malam ini, duduk di lobi hotel tempat gua nginap selama 4 hari terakhir di Pasuruan.

Pemikiran ini sebenarnya selalu terpikirkan memang sejak gua pulang dari Bandung waktu itu (22 Hours of Escape to Bandung). Entahlah, malam itu seperti mendapat firasat buruk. Firasat yang sudah lama dikenal. Firasat yang datang ketika malam wisuda Metamorf di Gorontalo, malam pertengkaran di Makassar, dan malam itu di Bandung. Tiga tempat berbeda. Firasat yang sama.

Dan malam ini, I still need time to understand, why always me? Kenapa selalu firasat itu yang datang? Kenapa selalu gagal? Kenapa selalu salah? Kenapa gua?

Gua me-rewind.

Pertama kali kenal cinta yang officially itu ketika lagi hits Korean Wave sekitaran 2009 yang membuat komunitas pecinta berbagai boyband, girlband menjamur di berbagai media sosial. Itulah tempat dan waktu pertama kali kenal. Secara virtual.

Jadian pertama kali (dan terakhir) itu waktu menjelang National Exam. Hanya bertahan 9 hari. Hanya 9 hari. Putus dengan alasan klasik. National Exam. Kenangan yang dibuat tidak terlalu banyak.

Time flies, gua masuk asrama, di tahun pertama bertemu orang lain. Orang yang buat gua jatuh cinta lagi. Orang yang membuat gua bego dan senang di waktu yang bersamaan. Orang yang selalu membuat malaikat dan iblis selalu berbisik ke gua di waktu yang bersamaan.

Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! Tembak! Pendam! TEMBAK! PENDAM!

Dan pada akhirnya, gua mendengar malaikat selama tiga tahun dan si iblis dalam tiga menit. Hasilnya? Sakit lagi. Tertolak lagi. Gua menutup kisah asrama gua dengan kisah asmara penuh luka.

Sebulan lebih kemudian, gua bertemu dengan orang lain lagi. Di kampus gua sekarang di Makassar. Pertama kali ketika masa orientasi. Dia mengantre di belakang gua. Dia bertanya sesuatu. Gua menjawab seadanya dengan tampang sok cool apa adanya. Tidak mengetahui selama empat bulan berikutnya gua jatuh cinta dengan orang itu. Dengan senyum itu. Dengan tawa itu. Dengan tangis itu.

Dengan cincin itu.

Berpisah karena masalah orientasi kampus sialan yang membuat gua menjadi keras kepala dan membuat dia menangis karena gua. Pertama kalinya ada perempuan lain yang nangis karena gua. Hasil? Keras kepala? Iya. Bodoh? Iya. Bego? Iya. Tolol? Iya. Dapat cinta? Tidak.

Dan pekan lalu ketika subuh hari raya. Gua tulis semua yang gua rasakan. Menekan tombol kirim. Mengirimkan semua yang gua pikirkan sejak bertemu pertama kali cinta pertama gua di Bandung waktu itu. Ke orang yang rela menjadikan gua sebagai first love history dia walaupun cuma 9 hari. Baru terbalas hari Senin lalu. Menghancurkan mood yang seharusnya terlihat senang ketika gua menghadiri acara nikahan kawan gua di sini menjadi buruk hingga kini. Membuat gua terlalu berpikir banyak dan berusaha mengerti di saat gua harusnya tenang dan tertawa karena bertemu kawan lama. Membuat gua harus memakai topeng lama yang selalu berusaha gua buang. Topeng Eccedentesiast. Sang Pemalsu Senyuman.

Gua jadi ingat tulisan di blog adik kelas gua yang sempet gua baca a few times ago. Kenapa disebut 'jatuh cinta'? Mau cinta harus jatuh dulu.

Gua? Hanya selalu jatuh terus tapi ngga pernah dapat cinta. Kan bego.

Sendiri itu sebenarnya bukan pilihan. Itu akibat dari ketakutan. Takut jatuh. Takut sakit. Takut ini dan itu. Begonya gua adalah gua mengenal cinta tapi gua ngga mengenal rasa takut itu.

Dan gua baru mengenal rasa takut itu hari Senin lalu. Setelah mendapat balasan itu. Takut.

Takut bakal jadi sendiri. Takut ditolak lagi. Takut jatuh cinta lagi. Traumatik.

Ada sebuah fobia yang menurut gua itu fobia yang paling menakutkan dibanding fobia lainnya.

Namanya adalah Philophobia. Takut jatuh cinta. Secara psikologis, manusia sangat membutuhkan cinta dalam hidupnya. Kalau dia takut jatuh cinta atau dalam keadaan penuh cinta, apa masih pantas dia hidup?

Gua mungkin sekarang terkena Philophobia. Rasanya? Mau mati rasanya.

Gua pernah bilang dulu bahwa cewek itu udah kemakan ekspektasi dari buku yang mereka baca atau film yang mereka tonton.

Dan gua kemakan omongan gua sendiri. Termakan ekspektasi dari buku yang gua baca dan film yang gua tonton. Ekspektasi kalau ada seorang perempuan yang mau nerima apa adanya diri gua ini. Yang mau sayang whoever I am.

Hanya saja, dalam pikiran gua apa yang dibilang kak Ika Natassa di bukunya itu benar adanya. Disayangi itu memang menyenangkan.

Tau orang yang lu sayang ternyata menyayangi lu balik itu menyenangkan. Sangat menyenangkan malah.

Dan gua? Hanya orang bego yang tau kalo orang yang gua sayang ternyata ngga sayang gua balik, dan gua masih aja berharap ada keajaiban dari itu.

Sekarang? Rasanya seperti di luar atmosfer bumi. Hampa dan mau mati rasanya.

Sepekan Rasa Delapan Tahun

by on 7/14/2016 02:31:00 AM
Pekan yang penuh dengan mixed feelings . Selalu ada tawa, tangis, senang, sedih, dan lainnya. Petualangan yang sedang mendekati akhirnya. E...

So, after wait for a couple of hours, here I am. Sitting in the airplane near the window. Next to two tourists from UK, I guess. They with 10 other tourists are going to Surabaya as I am. I think they are in holiday vacation in Manado. Yeah, as you know, there are so many places that you can visit when you decide to go to Manado, such as Bunaken, Bukit Kasih, and many more.

The one who besides me is a woman. Around twenty as I am, I guess. She has long brown hair, white skin, blue eyes. So beautiful. Ah, she is using blue GAP jacket with grey clothes inside it and black tight trousers. Let's call her, Jean. Pretty name, ha?

She is using white headset that connected to her iPhone. Listening music for sure. I see from her face, she feel so tired. Her blue eyes just try to open widely when the 'pramugari' give safety instructions, but in the end she just feel asleep.

A half of hours after this airplane take off, there are some vibrate from the airplane that makes her head fall off to my right shoulder. Still sleeping. So tired, Jean? Doesn't want to make her awake, I just relax my shoulder so she can feel comfortable sleeping on my shoulder.

In next hour, she awake and realize that she fall asleep on my shoulder.

"Sorry," she said. I just smile and said,

"No problem. I see that you're so tired. So I let you sleep on my shoulder."

"Yeah, yesterday we were dived at Bunaken and back to our hotel on foot, I think around 3 kilometres or more from the harbour," she start to tell her story to me. She didn't stop talking until next 15 minutes, she realize that I just listening to her story.

"Sorry again, if I'm too talkative."
I shake my head, "No, no. I'm glad to hear your story," she just smile. Beautiful smile.

"You're not taking my photo when I sleep on your shoulder, ha?" She asked.

I laugh. "I'm not such that person," we both laugh then.

Ten minutes before the airplane land, she look at me and said,
"We were talked so much but didn't know our name each others."
I take out my piece of ticket from my pocket and let her see my name on it.

"Bayu? Good name," then she did the same way to let me know her name.

"Jennifer? Pretty name," I said.

"I wanna say thanks for letting your shoulder for my sleep,"

"It's okay. No problem."

"I want to give you a little gift as my thanks before we are landing, so close your eyes please"

"Okay," then I close my eyes. In next seconds, I can feel her breath in front of me. Suddenly, she kissed me on the lips. Not a short kiss. I shocked a while and calm down and receive her 'little gift'. Long kiss.

Our kiss stopped by the voice that tell we'll landing in few minutes. She smiled. Me either. And she take back her head to my shoulder until the airplane landed safely.

Then, we're getting ready to get out from the plane. After that, when in the airport she gives me a little kiss again on my cheek and say good bye.

Who knows? The woman who take my first kiss is an English woman who fell asleep on my shoulder in the airplane called Jennifer.

A little airplane love story. Okay, weird story.

Ya cerita yang aneh. Tata bahasa Inggris yang ngasal. Cuma berdasarkan cerita ringan dengan Jennifer, bule UK yang duduk di sebelah gua selama di penerbangan dari Manado ke Surabaya.

Dan karena lagi stress dapet Whatsapp yang bikin down dan males.

Maafkan. *bow

Airplane Weird Love Story

by on 7/13/2016 02:19:00 PM
So, after wait for a couple of hours, here I am. Sitting in the airplane near the window. Next to two tourists from UK, I guess. They with 1...


Jadi, perjalanan singkat kemarin (bukan dalam harfiah) bisa terbilang serba ngga direncanain. Mendadak. Berawal dari paman gua nelpon minta tolong ngajarin fisika ke sepupu gua yang mau ikut SBMPTN. Jam 11 pagi ditelpon, jam 1 siang lebih gua udah duduk manis di airplane seat gua. Shock selama di perjalanan. Ga nyangka bakal ke Jakarta pada hari itu. Setelah transit 4 jam 10 menit di Surabaya, gua sampai di Jakarta pada malamnya tepatnya Bekasi sih.

Tiga hari awal ya dilewati dengan berkecimpung bantuin sepupu gua. Sampai ada pertanyaan di Whatsapp gua. Sebut saja Sierra (bukan nama sebenarnya). Dia tahu gua di Bekasi. Gua sih yang ngasih tau.

“Kamu mau ke Bandung? Aku cuma nanya kok,” isi pesannya.

Dalam sepersekian menit, gua mikir. Iya juga ya, ke Bandung lumayan deket juga waktu itu. Kalau dibandingin dengan dari Makassar. Pas banget ada waktu kosong pas hari Ahad ketika sepupu gua ada jam bimbingan kimia sama matematika. Ya sudah, gua bilang gua coba rencanain dulu gimana bagusnya. Kebiasaan planner. Singkat cerita, sepupu gua setuju, paman gua bilang oke, bokap ngizinin, tiket ada. Berangkat gua ke Bandung dari Bekasi naik kereta.

Before that, Sierra ini udah gua kenal sejak SMP dan belum pernah ketemu. Secara, gua tinggal di Kotamobagu, dia di Bandung. Jadi kurang lebih hampir 8 tahun gua kenal Sierra ini, jauh lebih lama daripada sahabat Metamorf gua. Gua kenal dia dari sebuah perkumpulan semacam komunitas begitu. Sejak itu, bisa dibilang cukup dekatlah (tidak secara harfiah). Mungkin bisa disebut sahabat pena begitu. Karena ga pernah ketemu, it’s truly awkward at our first meet.

Ketemunya di stasiun Bandung. Jam 11. Rainy. Jadi, ada sekitar hampir sejam duduk doang di stasiun sambil cerita. Hujan yang sekaligus membatalkan rencana kita ke alun-alun Bandung, yang katanya belum afdol ke Bandung kalo belum cium rumputnya. Oke, berlebihan. Akhirnya, kita cuma ke Cihampelas. Only walking around before we decided to watch ‘My Stupid Boss’ at cinema. Menit demi menit ketika menunggu gilirang penayangan film itu dilewati dengan bercerita dan beberapa menit keheningan serta diselingi ada promosi oleh orang (namanya Adi kalo ga salah) dari semacam komunitas penyayang anak autis yang mengira gua sama Sierra ini pacaran.

“Mas ini pacarnya mbak?” tanya si Adi yang langsung dijawab sama Sierra dan gua bersamaan, “Nggak.” dengan nada agak tinggi. Adi nya langsung keliatan tertegun begitu haha. Setelah gua ngasih beberapa lembar duit gitu buat beli kuponnya, Adi nya malah nyeletuk.

“Tuh, mbak. Masnya baik. Pacarin aja,” Sierra nya natap sinis pengen ketawa. Gua melotot dikit. Adi nya ketawa puas. Langsung gua tambahin duitnya beberapa lembar haha. Nggak deng.

Akhirnya, filmnya ditayangin. Ketawa puas ngeliatin tingkah konyol Reza Rahadian dengan perut buatan itu. Kita pun pulang. After taking a couple of selfies, kita berpisah di depan Cihampelas Walk dikarenakan dia masih harus ujian akhir semester esoknya.

Ketika berpisah jalan, gua sempat melihat dia berjalan menjauh dari belakang sebelum hilang dalam keramaian. Dalam sedetik beberapa memori lama melintasi kepala gua kala itu. Gua masih ingat pesan BBM nya ke gua sekitar dua tahun lalu.

“Kamu masih di top waiting list aku kok,” isi pesan itu. Dua tahun lalu. Walaupun itu bukan sebuah pernyataan yang absolut bahwa dia suka sama gua, tapi gua meleleh. Haha.

Di detik berikutnya, gua berpikir.

Suka sama seseorang yang belum tentu suka sama lu itu ibarat memiliki sebuah pedang yang tajam. Di satu sisi itu bisa menjadi senjata yang menguatkan lu, di sisi lain itu bisa menjadi senjata yang bisa membunuh diri lu sendiri.

Ketika lu tau bahwa dia suka sama lu, it will make you stronger than before. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang menopang diri lu. Tapi, ketika lu tau dia ngga suka sama lu, seolah-olah lu menghunuskan pedang itu ke jantung lu sendiri. Semakin lama semakin sakit.

Akhirnya, malam itu gua habiskan di hotel dekat Cihampelas Walk sambil menonton F1 GP Monaco dilanjutkan dengan serial CSI. Gua ga kemana-mana karena hujan lagi waktu itu. Seingat gua sih hujan. Harusnya gua ga bermalam. Tapi, karena ga dapet tiket balik. Terpaksa menginap semalam.

Besoknya, jam 8.45. 22 jam setelah pertama kali gua mendaratkan kaki di Bandung, gua udah duduk manis dekat jendela kereta Argo Parahyangan yang membawa gua balik ke Bekasi. Sembari melihat pemandangan hijau nan asri Bumi Pasundan, gua hanya termenung mengingat memori yang telah lalu. Terbayang pertanyaan yang entah akan terjawab atau tidak.

“Masihkah aku ada di peringkat pertama waiting listmu? Atau apakah sudah tergantikan dengan  orang lain?”

Mungkin agak berlebihan kedengarannya. Tapi, ya begitu keadaannya. Masih menunggu jawaban yang pasti. Seperti sebuah quote singkat in Ika Natassa’s latest novel, The Architecture of Love. Singkat tapi dalam.

“Disayangi itu menyenangkan.

Dan gua masih mencari rasa menyenangkan yang berbeda itu. Rasa menyenangkan yang tak pernah terasa.

22 Hours of Escape to Bandung

by on 6/03/2016 02:19:00 AM
Jadi, perjalanan singkat kemarin (bukan dalam harfiah) bisa terbilang serba ngga direncanain. Mendadak. Berawal dari paman gua nelpo...


Ada sebuah quote menarik yang gua baca di sebuah bacaan yang kebetulan dalam bahasa Inggris beberapa hari yang lalu. Kalimatnya kurang lebih seperti ini bunyinya,

"Pada saatnya nanti, Anda akan menemukan bahwa ada jauh lebih besar kebahagiaan dalam melihat kebahagiaan orang lain dibandingkan dengan diri anda sendiri," - Honore de Balzac, Le Pere Goriot (1835).

Setelah gua cari tentang novel tersebut, memang ketika menulis untaian diatas, Honore de Balzac sedang menggambarkan kondisi masyarakat Prancis di masa itu, yang terlibat pergolakan masalah status sosial.

Di dalam novel yang memunculkan Eugene de Rastignac sebagai tokoh utamanya itu, terpotret dengan jelas usaha Rastignac dalam mencoba menggapai ambisi pribadinya. Sampai-sampai dia menghalalkan segala cara di luar etika.

Dari satu perspektif, konotasinya mungkin terlihat negatif. Namun, dari sudut seberang, ada pesan 'struggle for survival' alias perjuangan untuk bertahan hidup yang bisa diambil. Ada pengorbanan yang harus ditempuh agar seorang individu bisa memperpanjang eksistensinya.

Dalam menjalani hidup, selalu ada pengorbanan yang harus dilakukan. Bukan melulu soal hilangnya materi, tapi bisa keputusan untuk melepas sebuah kesempatan atau bahkan sebuah posisi.

Kalau mau mengambil contoh, kita lihat di MLB (Major League Baseball) di Amerika Serikat. Disana ada cerita tentang sebuah sacrifice. Bisbol mengajarkan kita bahwa ada beberapa pemain yang rela melepaskan posisinya tergeser dari pos inti, selama ia masih bisa berkontribusi di sektor lain dalam tim.

Contohlah, Alex Rodriguez. Tahun ini dia sudah memasuki musim ke-12 bersama New York Yankees. Dalam empat musim terakhir, Alex rela bermain sebagai Designated Hitter alias pemukul pengganti, alih-alih sebagai 3rd baseman, yang notabene posisi yang jauh lebih presitisius.

Alex tampaknya kurang memperdulikan kepentingan pribadinya. Sepanjang pelatih Yankees, Rob Thomson masih membutuhkan jasanya, di manapun itu, dan selama tim mendapatkan hasil positif dari pengorbanannya, sang eks Texas Rangers ini pun selalu siap berkontribusi secara optimal.

Hal yang sama juga mungkin dialami oleh seorang Lionel Messi musim ini. For the first time in seven years, he must see himself didn’t stay at the top of El Pichichi (top scorer in La Liga). Posisinya dalam menjadi ujung tombak Barcelona sekarang digantikan oleh Luis Suarez. Tanpa upaya mempertontonkan kengototan untuk menyaingi Suarez, The Messiah justru rela menempatkan dirinya sebagai feeder bagi bomber Uruguay itu.

Keahlian memukau dalam menceploskan bola kini sudah beralih menjadi keelokan mengumpan eksepsional. Argo golnya kini berubah menjadi argo assist. Messi tentu menyadari betul bahwa pengorbanannya ini berpotensi memperkecil kansnya menggondol Ballon d’Or keenamnya musim ini, yang menjadi lambang pesepakbola terbaik yang sejak diperebutkan olehnya dan Cristiano Ronaldo beberapa musim terakhir, yang sering ditentukan dengan banyaknya koleksi gol.

Namun, Messi tampak mulai kurang peduli, selama dirinya bisa melihat bentuk kebahagiaan baru seperti yang dituliskan oleh Balzac.

Mungkin kita juga harus mulai seperti itu. Memang rasanya melihat senyum kebahagiaan orang lain itu jauh lebih mantap rasanya ketimbang senyum kebahagiaan milik sendiri. Belum pernah merasakan? Cobalah.

Senyum Lain

by on 5/12/2016 04:53:00 PM
Ada sebuah quote menarik yang gua baca di sebuah bacaan yang kebetulan dalam bahasa Inggris beberapa hari yang lalu. Kalimatnya kura...